Dilema Adaro: Mengapa Batu Bara Masih Mendominasi Dibanding EBT?
:
0
eksplorasi batubara. DOK/ISTIMEWA
EmitenNews.com -Indonesia telah lama bergantung pada batu bara sebagai sumber energi utama, yang menyumbang lebih dari 60% listrik nasional. Baru-baru ini, Adaro Energy melakukan pemisahan bisnisnya menjadi dua entitas: AADI yang memegang sektor batu bara dan ADRO yang berfokus pada energi terbarukan. Namun, pasar menunjukkan reaksi tak terduga—AADI melonjak ke Rp 6.500, sementara ADRO turun ke sekitar Rp 1.000.
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: Apakah investor masih lebih percaya pada industri batu bara dibanding energi terbarukan? Artikel ini akan mengulas fenomena ini dan apakah Indonesia siap untuk beralih ke energi hijau.
Indonesia adalah salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, dengan ekspor utama ke Tiongkok, India, dan Asia Tenggara. Meskipun ada dorongan untuk energi terbarukan, batu bara masih dianggap sebagai sumber energi yang murah, melimpah, dan andal, menjadikannya pilihan utama untuk ketahanan energi nasional.
Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan kebijakan untuk mendukung energi terbarukan, termasuk proyek tenaga surya, angin, dan hidro, tetapi perkembangannya masih lambat. Infrastruktur yang belum memadai dan tingginya biaya investasi membuat banyak pelaku industri masih melihat batu bara sebagai pilihan yang lebih aman. Hingga kebijakan yang lebih kuat diberlakukan, batu bara akan tetap menjadi sumber energi dominan.
Dalam strategi bisnis terbaru, Adaro Energy (ADRO) memisahkan bisnis batu bara dan energi terbarukannya. Pemisahan ini menghasilkan dua saham baru: AADI yang kini mengelola bisnis batu bara dan ADRO, yang mempertahankan investasi energi terbarukan.
Pasar langsung bereaksi—AADI mencapai all-time high pada 9 Desember 2024 dengan harga Rp 11.375, sementara ADRO anjlok ke sekitar Rp 1.000 beberapa waktu ini. Mengapa ini terjadi?
Salah satu alasannya adalah profitabilitas bisnis batu bara. Sebagai eksportir batu bara utama, AADI mendapatkan arus kas stabil, margin keuntungan tinggi, dan dividen besar, yang menarik bagi investor yang menginginkan kepastian keuntungan. Sebaliknya, ADRO, meskipun berfokus pada energi hijau, menghadapi tantangan besar, seperti biaya investasi tinggi, periode balik modal yang lama, dan profitabilitas yang belum pasti.
Selain itu, banyak investor institusional yang awalnya memegang ADRO kemungkinan lebih tertarik pada segmen batu bara daripada energi terbarukan. Setelah pemisahan, mereka memindahkan modal ke AADI, yang semakin mendorong kenaikan harga sahamnya. Pemisahan ini tidak hanya menyoroti kepercayaan pasar terhadap batu bara, tetapi juga keraguan terhadap prospek energi terbarukan di Indonesia. Tapi kenapa?
Batu bara masih menjadi bisnis dengan margin tinggi, terutama karena permintaan global yang kuat dari Tiongkok, India, dan Asia Tenggara. AADI menawarkan arus kas stabil dan dividen tinggi, menjadikannya pilihan menarik bagi investor yang menginginkan pengembalian investasi yang cepat dan aman. Sebaliknya, bisnis energi terbarukan seperti ADRO membutuhkan investasi besar dengan periode balik modal yang panjang, yang kurang menarik bagi investor jangka pendek.
Meskipun banyak negara berkomitmen untuk transisi ke energi bersih, konsumsi batu bara global masih mencapai rekor tertinggi. Tiongkok & India masih bergantung pada batu bara sebagai sumber listrik utama. Negara Barat memang mulai mengurangi penggunaan batu bara, tetapi permintaan dari Asia tetap tinggi, memastikan pasar batu bara tetap stabil. Selama tren ini berlanjut, investor akan melihat AADI sebagai bisnis yang menguntungkan.
Related News
Membentuk Bank UMKM? Inilah Faktor yang Patut Dipertimbangkan!
TLKM Boncos di GOTO, Kini Danantara Masuk: Negara Tak Ambil Pelajaran?
Anatomi dan Skenario Pelemahan Rupiah
Pro-Kontra Pajak Mobil Listrik: Netralitas vs Agenda Dekarbonisasi
Hati-hati! Mengapa Kita Tidak Boleh Terlena Pertumbuhan PDB 5,61%?
Saham Bank Terus Turun: NPL sebagai Alasan atau Sekadar Kambing Hitam?





