EmitenNews.com - Konflik Timur Tengah masih sulit diprediksi ujungnya, PT Pertamina (Persero) mengantisipasi pasokan energi nasional dengan membuka sumber impor alternatif. Antisipasi ini diperlukan di tengah dinamika distribusi energi global di Selat Hormuz imbas konflik geopolitik di Timur Tengah, yang didahului serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.

Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/3/2026), Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan perusahaan telah menyiapkan langkah antisipasi berupa pencarian alternatif impor dari kawasan tersebut. Sasarannya menjaga ketahanan stok energi nasional.

“Tentunya kami sudah antisipasi untuk mencari sumber yang lain supaya ketahanan stoknya juga bisa baik dan bagus,” kata Simon.

Sumber pasokan energi Indonesia tidak hanya berasal dari Timur Tengah, tetapi juga dari wilayah lain seperti Afrika dan Amerika Serikat.

“Untuk antisipasi kami juga melakukan diversifikasi sumber. Sumber-sumber kita tidak hanya dari Timur Tengah, ada juga dari Afrika, ada dari Amerika Serikat, dan berbagai tempat lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya ketegangan di kawasan Timur Tengah memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.

Kita tahu, saat ini, Selat Hormuz menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak mentah dari negara-negara produsen di Timur Tengah ke berbagai negara konsumen.

Pemerintah sebelumnya mencatat bahwa sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia dikirim melalui Selat Hormuz.

Pencarian alternatif impor minyak ini juga direncanakan Pertamina setelah dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) masih berada di kawasan Teluk Arab. Dengan alasan keamanan, dua kapal tersebut belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Dua kapal tersebut adalah very large crude carrier (VLCC) Pertamina Pride dengan ship management dari NYK serta kapal Gamsunoro yang dikelola oleh Synergy Ship Management.

Sesuai laporan PIS pada Senin (2/3/2026), Pertamina Pride telah selesai melakukan proses loading dan berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi, sedangkan Gamsunoro sedang proses loading di Khor al Zubair, Irak.

Dua kapal PIS lainnya, yakni PIS Paragon dan PIS Rinjani, dilaporkan berada di luar dari kawasan perairan di Timur Tengah itu.

Saat ini PIS mengoperasikan 345 kapal untuk mendukung distribusi energi. Dari total armada tersebut, 266 kapal melayani pengangkutan BBM dan avtur, 27 kapal mengangkut minyak mentah, 45 unit melayani distribusi LPG, serta 7 unit mendukung pengangkutan petrokimia dan berperan juga sebagai Floating Storage.

Selain menjaga pasokan melalui impor, kata Simon, Pertamina juga akan terus mendorong peningkatan produksi energi domestik. “Kita kan punya kerja sama di Blok Cepu, jadi sama-sama harus maksimal. Dengan penambahan fasilitas di sana kita dorong supaya produksinya bisa meningkat.”

Simon memastikan, keselamatan para kru dan muatan kargo menjadi perhatian utama Pertamina. “Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dari Kementerian Luar Negeri, dari semua pihak dan kita juga mendorong supaya situasi di sana semakin baik." ***