EmitenNews.com - Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) anjlok 3,1 persen menjadi USD 89,31 per barel pada penutupan perdagangan tanggal 24. Penurunan tajam untuk kontrak pengiriman September ini dipicu langsung oleh kabar bahwa pemerintah Pakistan sedang memfasilitasi dialog untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Mengutip publikasi Biggo Finance, langkah mediasi Pakistan memunculkan ekspektasi kuat di pasar bahwa ancaman gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah dapat segera teratasi. Penurunan harga minyak ini sekaligus menjadi pelemahan pertama untuk kontrak WTI dalam kurun waktu sekitar satu pekan terakhir, terhitung sejak tanggal 16.

Laporan Reuters mengonfirmasi bahwa diskusi pendahuluan telah berlangsung di ibu kota Pakistan, Islamabad, pada pekan ini. Pembicaraan tersebut bertepatan dengan kunjungan Menteri Dalam Negeri Iran, Momeni.

Para investor dengan cepat memperhitungkan kemungkinan bahwa pembukaan jalur diplomatik melalui negara ketiga mampu meredakan ketegangan militer antara AS dan Iran yang terus meningkat.

Situasi geopolitik sebelumnya sangat fluktuatif. The New York Times melaporkan pada hari yang sama bahwa Presiden Trump telah bertemu dengan para pejabat senior guna mempertimbangkan eskalasi serangan lebih lanjut terhadap Iran.

Hal ini terjadi setelah Komando Pusat AS mengumumkan penyelesaian serangan terhadap Iran selama 13 hari berturut-turut pada tanggal 23. Ketegangan memanas usai kelompok militan Houthi pro-Iran di Yaman menyerang kapal tanker minyak terkait Arab Saudi di Laut Merah.

Perkembangan diplomasi ini langsung memengaruhi pergerakan pasar modal. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 235,60 poin ke level 51.947,25 seiring meredanya kekhawatiran atas lonjakan biaya energi.

Sebaliknya, Indeks Komposit Nasdaq justru memperpanjang tren penurunan dengan melemah 161,87 poin menjadi 24.975,82 akibat kekhawatiran atas pendapatan perusahaan teknologi. Sementara itu, harga emas berjangka COMEX pengiriman Agustus pulih dengan naik USD 20,60 menjadi USD 4.070,80 per troy ounce sejalan dengan menurunnya suku bunga jangka panjang AS.

Bagi pasar domestik Indonesia, penurunan harga minyak mentah global ini memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Merosotnya harga acuan energi dunia secara langsung meringankan tekanan terhadap beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) nasional.

Selain itu, meredanya risiko geopolitik di Timur Tengah memberi sentimen positif yang dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dari pelarian modal asing.(*)