EmitenNews.com - PT Dua Putra Bersinergi selaku pemegang saham utama PT Isra Presisi Indonesia Tbk (ISAP) dilaporkan melepas sebanyak 100 juta saham Perseroan pada 21 Januari 2026. Tujuan transaksi tersebut merupakan divestasi kepemilikan.

Dalam laporan kepada Bursa Efek Indonesia, Jumat, 23 Januari 2026, manajemen ISAP menerangkan bahwa penjualan saham-saham Perseroan yang dimiliki PT Dua Putra Bersinergi itu dilakukan secara langsung dan bukan untuk tujuan repurchase agreement (repo).

Dengan harga transaksi Rp50 per saham, 100 juta saham ISAP yang dilepas menghasilkan dana sebesar Rp5 miliar.

Hingga akhir Desember 2025, pemegang saham utama PT Dua Putra Bersinergi diketahui menggenggam 2.125.940.000 saham ISAP dengan total porsi kepemilikan sebesar 52,88 persen. Setelah penjualan saham dilakukan pada 21 Januari 2026, kepemilikannya susut jadi 50,39 persen.

Sementara, Asrullah selaku pemegang saham pengendali menguasai sebanyak 25,2 juta saham ISAP atau setara 0,63 persen.

Kepemilikan publik pada saham ISAP terbilang tinggi yaitu sebanyak 1.869.084.162 saham yang setara dengan 46,49 persen.

Sementara itu, jumlah pemegang saham tercatat sebanyak 17.032 pihak.

Hingga pukul 11:30 WIB, harga saham ISAP terpantau naik 4 poin atau 7,27 persen menjadi Rp59 per saham.

Kabar akuisisi oleh perusahaan China

Emiten manufaktur komponen presisi ini dirumorkan akan melakukan perubahan haluan bisnis ke sektor nikel, dan disebut-sebut menjadi target akuisisi perusahaan nikel asal China.

Isu tersebut berkembang pesat di kalangan pelaku pasar, seiring menguatnya sentimen nikel nasional dan global, serta tren masuknya investor China ke ekosistem nikel Indonesia melalui akuisisi, joint venture, dan penyertaan modal strategis. Pasar pun sepertinya sudah mengetahui rencana aksi korporasi Emiten, dalam dua hari perdagangan bursa, saham ISAP mengalami Auto Reject Atas (ARA).

"Sebagai produsen nikel terbesar dunia, Indonesia telah menjadikan komoditas ini sebagai agenda strategis nasional. Efeknya terasa langsung di pasar modal: setiap emiten yang tersentuh narasi nikel hampir selalu mendapatkan atensi, likuiditas, dan revaluasi, " ujar Analis Purwito Sudjatmiko dalam keterangannya di Jakarta, 17 Januari 2026.

Dalam konteks inilah, ISAP mulai masuk radar investor. Dengan valuasi pasar yang masih relatif kecil, saham ini dinilai memiliki ruang cerita (story value) yang besar jika benar-benar masuk ke ekosistem nikel, baik secara langsung maupun tidak langsung.

"Bukan rahasia lagi, perusahaan-perusahaan nikel asal China sangat agresif memperluas jejaknya di Indonesia, terutama untuk mengamankan pasokan bahan baku baterai kendaraan listrik (EV). Dalam banyak kasus, akuisisi emiten lokal menjadi jalur tercepat untuk masuk ke proyek hilirisasi," katanya