EmitenNews.com - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) meresmikan UMKM Center. Itu dilakukan untuk mendukung, dan menguatkan sektor UMKM. Perbanas juga memaparkan hasil riset awal mengenai perkembangan, dan tantangan UMKM terkini. Riset menggunakan metode pendekatan kualitatif, dan kuantitatif.

Pendekatan kualitatif dilakukan melalui serangkaian focus group discussion (FGD) mempertemukan asosiasi industri jasa keuangan seperti Himbara, Asbanda, Asosiasi Fintech (Aftech) dengan para pelaku usaha, komunitas UMKM, dan akademisi. Selain para pihak mewakili sisi penawaran dan permintaan kredit itu, FGD juga menghadirkan para pengambil kebijakan (regulator) terutama berhubungan langsung dengan sektor UMKM.

"Peresmian UMKM center dan paparan hasil penelitian UMKM bentuk kepedulian sekaligus salah satu ikhtiar kami dalam memajukan industri UMKM Indonesia. Sebagai tulang punggung ekonomi, sektor UMKM perlu diperkuat agar kontribusi terhadap perekonomian nasional terus meningkat. Kami optimistis, kerja sama baik antara industri perbankan, ekosistem UMKM, dan para pengambil kebijakan akan memberikan manfaat luar biasa bagi negeri ini," tutur Hery Gunardi, Ketua Umum Perbanas, di Four Seasons Hotel, Kamis (18/6/2026).

Hasil penelitian dipaparkan Winang Budoyo, Chief Economist Perbanas. Winang menyampaikan pertumbuhan kredit UMKM menunjukkan pelemahan sejak akhir 2022, dan mulai masuk zona negatif pada akhir 2025. Hingga Februari 2026, kredit UMKM masih terkontraksi 0,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pelemahan itu, berbeda dari tren kredit perbankan secara umum, terutama kredit modal kerja, investasi, dan konsumsi masih tumbuh positif. Jadi, penurunan kredit UMKM mengindikasikan ada persoalan mendasar pada segmen UMKM.

Saat ini, pelemahan kredit UMKM lebih didorong sisi permintaan kredit atau bersifat demand-driven. Mayoritas (hampir 90 persen) UMKM formal dan informal tidak mengajukan kredit karena merasa belum membutuhkan pinjaman sebagai alasan utama. Pembiayaan usaha hampir 90 persen dari dana pribadi (self-funded). Itu Hmenunjukkan permasalahan utama rendahnya akses pembiayaan UMKM terletak dari sisi permintaan (demand side) kredit itu sendiri.

Di sisi lain, penelitian ini menunjukkan sisi penawaran (supply side) pembiayaan UMKM sudah sangat suportif. Itu tercermin dari survei menemukan ketika UMKM formal mengajukan kredit, tingkat persetujuan sangat tinggi sekitar 94,3 persen. "Fakta itu, mengonfirmasi persoalan utama bukan terletak pada penolakan bank, melainkan pada rendahnya permintaan kredit baru, terbatasnya dorongan ekspansi usaha, dan belum kuatnya kesiapan UMKM untuk mengakses pembiayaan formal," kata Winang.

Pada kesempatan sama, Ketua Bidang Riset & Kajian Ekonomi & Perbankan Perbanas, Aviliani berharap UMKM Central nantinya dapat membantu para pelaku UMKM unbankable menjadi bankable, memberi pendampingan, serta berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menaikkan kelas para pelaku UMKM. (*)