EmitenNews.com - Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menegaskan komitmen dalam mendukung kebutuhan makro Indonesia akan transisi energi, dan konektivitas digital. Itu dilakukan melalui sinergi infrastruktur digital, dan transisi energi bertanggung jawab. Komitmen tersebut diwujudkan melalui percepatan adopsi Energi Baru Terbarukan (EBT), transformasi praktik pertambangan berkelanjutan, perluasan infrastruktur digital melalui solusi AI, pemerataan akses informasi demi membangun masa depan Indonesia lebih hijau, dan inklusif. 

Itu diungkap dalam Media Gathering mengenai dinamika industri, dan arah pengembangan bisnis DSSA ke depan. Manajemen DSSA menegaskan sektor energi tetap menjadi fondasi bisnis dengan fokus pada operasional efisien, dan berkelanjutan. Strategi itu, diwujudkan melalui penguatan sustainable mining practices, mulai peningkatan efisiensi energi hingga pengelolaan lingkungan terintegrasi. 

Langkah nyata itu, telah diimplementasikan melalui akselerasi elektrifikasi armada operasional (EV fleets) PT Borneo Indobara (BIB). Inisiatif tersebut tidak hanya memangkas biaya operasional, tetapi juga memelopori transisi menuju green mining sektor pertambangan. Dengan adopsi teknologi itu, perseroan memastikan operasional tetap relevan dengan kebutuhan energi masa depan sekaligus secara aktif menekan emisi karbon. 

DSSA secara bertahap terus memperkuat portofolio EBT, khususnya sektor panas bumi, dan tenaga surya, untuk menciptakan bauran energi lebih seimbang. Langkah itu, menjadi strategis mengingat Indonesia memiliki sekitar 40 persen potensi panas bumi global, yang merupakan sumber baseload energi hijau paling andal dalam jangka panjang. 

Komitmen itu, diwujudkan melalui pengoperasian pabrik panel surya terintegrasi 1 GW di KEK Kendal, dan pengembangan proyek panas bumi melalui DSSR Daya Mas Sakti. Dengan total potensi mencapai 440 MW, perseroan kini tengah mengakselerasi eksplorasi di enam wilayah strategis—mulai Cisolok dan Cipanas Jawa Barat, hingga Sumatera, Flores, dan Sulawesi Tengah. Guna memperkuat kapabilitas teknis, dan operasional, DSSA juga menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia, anak usaha Energy Development Corporation (EDC). 

“Pendekatan kami menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus secara bertahap mengembangkan sumber energi lebih rendah emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Sejalan dengan itu, kami juga terus memperkuat operational excellence melalui penerapan praktik lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan—mulai dari peningkatan efisiensi, optimalisasi penggunaan energi dan sumber daya, digitalisasi operasional, hingga pengurangan emisi dan limbah secara terukur,” tutur Lokita Prasetya, Wakil Presiden Direktur DSSA. 

Langkah itu, merupakan bagian dari komitmen DSSA untuk mencapai carbon neutrality pada 2050 melalui pendekatan transisi dilakukan secara bertahap dan terukur. Seiring pertumbuhan ekonomi digital, DSSA terus memperkuat bisnis di sektor infrastruktur digital & teknologi untuk mendukung kebutuhan konektivitas dan pengelolaan data di Indonesia. 

Langkah strategis itu, diperkuat melalui kemitraan dengan iFLYTEK untuk mengakselerasi transformasi digital berbasis AI di Indonesia, termasuk pengembangan berbagai solusi AI (AI use-case) & kapabilitas analitik berbasis LLM (Large Language Model) SPARK. Sinergi itu, dirancang menghadirkan ekosistem digital lebih cerdas, dan efisien berbagai sektor industri terutama kesehatan (healthcare), pendidikan (Education), dan telekomunikasi & digital infrastruktur. 

“Pertumbuhan kebutuhan data dan konektivitas menjadi pendorong utama pengembangan bisnis digital kami. Kami melihat peluang besar untuk mendorong pemerataan penetrasi digital dengan menjawab kesenjangan yang ada, sekaligus menghadirkan solusi berbasis AI yang mudah diakses,” tegas Marlo Budiman, CEO PT DSST Mas Gemilang (DSST). 

Saat ini, DSSA juga mengoperasikan jaringan fiber optic sekitar 57 ribu km, dengan lebih dari 9 juta homepass, dan sekitar 1 juta pelanggan broadband melalui MyRepublic Indonesia. Skala itu, menjadi fondasi untuk memperluas akses digital berbagai wilayah. Penguatan infrastruktur itu, didukung pengembangan jaringan data center nasional mencakup 24 Edge Data Center di 23 pasar strategis dari Medan hingga Manado untuk memastikan pemrosesan data dengan latensi rendah. 

Selain itu, perseroan tengah menyiapkan Flagship Hub Jakarta SMX01, sebuah fasilitas Tier-IV AI-ready berkapasitas awal 18 MW di jantung CBD Jakarta dijadwal mulai beroperasi semester kedua 2026. Peluang pasar masih terbuka besar, dengan sekitar 50 juta masyarakat belum terlayani internet secara optimal, dan potensi pasar telekomunikasi nasional mencapai sekitar USD29 miliar. 

Pasar fixed broadband diproyeksi tumbuh sekitar 10 persen per tahun dalam beberapa tahun ke depan. Nah, untuk menangkap peluang tersebut, DSSA menjalankan berbagai inisiatif strategis, termasuk penguatan jaringan fiber melalui Moratelindo, pengembangan data center, dan eksplorasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). 

Sepanjang 2026, DSSA juga menjalankan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat struktur bisnis, termasuk rencana stock split, penjajakan kerja sama sektor energi, dan teknologi. DSSA menegaskan pengembangan bisnis akan dilakukan secara bertahap dengan menjaga kekuatan sektor energi, sekaligus menangkap peluang pertumbuhan sektor digital. 

David Audy, Direktur DSSA menambahkan perseroan melihat peluang masa depan Indonesia akan banyak mengadopsi Artifical Inteligence (AI). Adopsi AI akan ditopang dua fondasi utama. Yaitu, energi andal dan infrastruktur konektivitas digital merata. Karena itu, DSSA membangun keduanya secara terintegrasi, menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus mempercepat pengembangan portofolio energi rendah emisi seperti geothermal,” tegasnya. 

Sejalan dengan itu, DSSA terus memperkuat infrastruktur digital sebagai tulang punggung ekonomi berbasis data. “Dengan fondasi tersebut, DSSA berada pada posisi strategis sebagai enabler sekaligus beneficiary dari pertumbuhan adopsi AI Indonesia,” ucap David. (*)