EmitenNews.com - Ada dua dunia di semesta saham. Yang satu adalah dunia di mana perusahaan-perusahaan terbuka (“tbk”) itu beroperasi secara real, yang aktivitas bisnisnya tampak secara kasat mata, output barang atau jasanya nyata, apapun jenis usahanya. Dunia yang satunya lagi adalah dunia yang pada dasarnya merupakan refleksi dari dunia pertama tadi, di mana ada pasar yang menilai dan memperjualbelikan harga dari perusahaan-perusahaan tbk itu.

Dunia pertama tidak seharusnya terganggu dan tergantung dengan apapun yang terjadi di dunia kedua. Lantaran dia adalah sang aktor, obyek utama, yang justru malah menentukan apa yang akan terjadi dengan dunia kedua. Bukan sebaliknya. Dunia pertama adalah “sang penyebab”, bukan “si akibat”. Sesederhana itu. “Saham is really simple, but we insist on making it complicated.” Izin YM Confucius, “Life”-nya sementara saya ganti “Saham”.

Masalahnya, dan yang acap kali bikin masalah, adalah dunia kedua, dunia refleksi. Sebuah dunia abstrak, bergelimang rupiah, di mana segala kepentingan ada di sana, segala emosi ada di sana, segala jurus ada di sana, segala makhluk juga ada di sana, dalam berbagai bentuknya, dari hantu-pemuja-uang hingga malaikat-belike-bertaring. Yang kesemuanya tampil berbalut jubah “transparansi” dan berlindung di balik topeng “independensi”. Sulitkah mengidentifikasi itu? Sulit. Mungkinkah? Mungkin. Mampukah?

Kemampuan -atau ketidakmampuan- mengidentifikasi, dan memitigasi, itu semua, itulah yang hari-hari ini dipertanyakan oleh MSCI.

PS: Kabar baiknya -di tengah kekacauan dunia kedua ini- di dunia pertama, mesin-mesin tambang masih bergerak, cerobong pabrik-pabrik masih berasap, customer service masih menyapa ramah.