Efek Bunga Fed Mereda, Saham Chip Global Bangkitkan Kospi
:
0
Indeks Kospi Korea Selatan melonjak lebih dari 2% pada awal perdagangan Jumat (18/9).
EmitenNews.com - Indeks Kospi Korea Selatan melonjak lebih dari 2% pada awal perdagangan Jumat (18/9). Pasar keuangan kawasan bergerak menguat seiring meredanya kekhawatiran investor atas dampak guncangan kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data dari Bloomingbit.io, indeks Kospi melesat 166,12 poin atau 2,47% ke level 6.881,53 pada pukul 09.01 waktu setempat. Pergerakan ini didorong oleh aksi beli bersih investor asing sebesar 128 miliar won dan investor institusi sebesar 178 miliar won, sementara investor ritel membukukan aksi jual bersih senilai 341 miliar won.
Gairah pasar kembali hidup menyusul penutupan positif bursa New York semalam, di mana saham-saham teknologi memimpin pemulihan hingga mendorong Indeks Semikonduktor Philadelphia naik 3,14%.
Selain pergerakan saham teknologi global, penguatan pasar ditopang oleh melandainya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan penurunan harga minyak dunia. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun tercatat terkoreksi 9 basis poin menjadi 4,93%, sementara harga minyak mentah jenis Brent dan West Texas Intermediate melorot tipis.
Saham-saham semikonduktor berkapitalisasi pasar besar menjadi motor utama penguatan Kospi. Saham Samsung Electronics menguat 2,97%, SK Hynix naik 3,95%, dan Samsung Electro-Mechanics melonjak hingga 5,26%. Di pasar sekunder Kosdaq, indeks naik 0,97% ke posisi 830,09 yang ditopang penguatan Jusung Engineering sebesar 4,41% serta Leeno Industrial sebesar 2,86%.
Di tengah reli tersebut, saham Orum Therapeutics anjlok hingga menyentuh batas bawah harian (lower limit) akibat kabar penghentian pengembangan kandidat obat kanker darah oleh mitranya. Sementara itu, nilai tukar won di pasar valas Seoul bertahan di kisaran 1.382,2 per dolar AS.
Kebangkitan bursa Korea Selatan dan menguatnya saham sektor chip global memberikan angin segar bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meredanya sentimen negatif dari AS ini berpeluang memicu aliran modal masuk (capital inflow) ke kawasan regional, sekaligus mengangkat saham-saham sektor teknologi dan pendukung ekosistem elektronik di Bursa Efek Indonesia (BEI).(*)
Related News
Imbal Hasil Obligasi AS Turun, Saham Teknologi Wall Street Naik
Harga Minyak Brent Turun ke USD104, Timur Tengah Mulai Kondusif
Komitmen Migas USD141,5 Juta Jadi Sentimen Segar Saham Energi
HOKI Ungkap Dampak Kasus Beras Fortifikasi, 4 Produk dalam Pemeriksaan
Bukan Sekedar Hobi, Ekspor Florikultura RI Tembus Rp3,51, 96 Negara
AirAsia tidak Baik-baik Saja, Dua Maskapai Ini Diminta Turun Tangan





