EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penurunan pada perdagangan Jumat. Pelemahan harga ini terjadi selama tiga sesi berturut-turut seiring meredanya kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan di Timur Tengah serta menguatnya harapan terhadap diplomasi konflik energi.

Berdasarkan data dari Trading Economics, harga minyak mentah melorot mendekati level USD101 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent terkoreksi hingga menyentuh kisaran USD104 per barel pada hari yang sama.

Melandainya harga pasar dipicu oleh langkah pemulihan infrastruktur oleh Arab Saudi. Kerajaan tersebut menargetkan pemulihan sekitar separuh kapasitas pipa minyak Timur-Barat (East-West pipeline) dalam beberapa hari dan memproyeksikan operasi penuh kembali dalam waktu enam minggu. Untuk sementara, Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz menggunakan kapal pengangkut guna memuat kapal tanker di luar selat demi menghindari serangan.

Dari sisi diplomasi, China dilaporkan telah mendesak Iran untuk membantu mengekang aksi militan Houthi menyusul permohonan dari Riyadh. Langkah ini diambil setelah kelompok pemberontak tersebut meningkatkan intensitas serangan terhadap infrastruktur energi Saudi.

Di samping itu, dinamika politik AS turut memengaruhi pergerakan pasar. Presiden Donald Trump memberikan pernyataan terkait rencana kebijakan geopolitiknya di kawasan tersebut.

"Saya sedang mempertimbangkan apakah akan melanjutkan serangan terhadap Iran," ujar Donald Trump menjelang agendanya bertemu dengan para pemimpin negara Teluk di New York pada pekan depan.

Tren penurunan harga minyak mentah dunia untuk sesi ketiga ini juga memberikan sentimen positif terhadap stabilitas fiskal nasional. Penurunan harga dapat menekan beban subsidi BBM pada APBN, mengurangi biaya pengadaan impor minyak mentah oleh PT Pertamina (Persero), serta membantu menjaga stabilitas harga energi dan tingkat inflasi domestik.(*)