EmitenNews.com - Ekspor batu bara termal Indonesia siap memecahkan rekor penjualan tahun lalu. Proyeksi pengiriman dua bulan pertama 2024 melonjak hampir 25 persen dibanding periode sama tahun lalu.

Data pelacakan kapal dari Kepler dikutip Reuters, Selasa (20/2), menunjukkan ekspor batu bara termal dan bituminous termal Indonesia -digunakan untuk pembangkit listrik- mencapai 90 juta metrik ton periode Januari dan Februari. Angka itu, meningkat 24 persen dibanding dua bulan sama edisi 2023.

Sepanjang 2023 secara keseluruhan, ekspor Indonesia mencapai angka tertinggi baru 504,6 juta ton. Jika laju ekspor tinggi -terlihat sepanjang tahun ini- dapat dipertahankan, tahun ini akan menjadi titik tertinggi baru ekspor batu bara termal Indonesia.

China, India, Korea Selatan, dan Filipina merupakan pasar utama batu bara Indonesia tahun ini. China sebesar 33 persen, India 15 persen, Korea Selatan 5,8 persen, dan Filipina 5,1 persen dari total pengapalan. Bersama Jepang, pasar-pasar tersebut merupakan lima negara tujuan utama batu bara Indonesia pada 2023.

Kendati demikian, secara volume, 29,4 juta ton yang dikirim ke China hingga Februari, hampir 9% lebih rendah dari pengiriman selama dua bulan pertama tahun 2023. Tapi sejauh ini, data pelacakan kapal Kpler mencatat, masih ada lebih dari 21 juta ton kargo batubara Indonesia yang telah dimuat atau sedang dimuat, tetapi belum mengonfirmasi tujuan akhirnya pada manifes kapal.

Reuters memperkirakan, banyak dari kargo tersebut kemungkinan besar menuju ke China, konsumen batubara terbesar di dunia. Konfirmasi pengiriman tersebut kemungkinan baru akan didapat setelah suasana libur panjang Tahun Baru Imlek di China berakhir.

Pengiriman ke India mencapai 13,5 juta ton hingga Februari, yang merupakan angka tertinggi untuk periode tersebut sejak tahun 2020. India mengimpor 100,85 juta ton batu bara Indonesia secara total pada tahun 2023, dan sejauh 2024 ini pengiriman Indonesia berjalan sekitar 3,5% lebih cepat daripada tahun 2023.

Ekspor ke Korea Selatan, Filipina, Jepang, dan Malaysia semuanya sedikit turun dari periode yang sama di tahun 2023, tetapi kemungkinan besar akan mengalami revisi kenaikan volume menjelang akhir bulan setelah manifes kapal diperbarui.

Pendorong utama dari tingginya permintaan batubara di negara-negara tersebut di sepanjang 2024, menurut Reuters, adalah seberapa baik ekonomi China akan pulih dari kemerosotan yang terlihat sejak tahun 2022.

Krisis utang yang berkepanjangan di seluruh arena properti penting di China telah menghambat aktivitas di sektor konstruksi dan industri berat China. Namun, Beijing diperkirakan akan mengumumkan langkah-langkah stimulus baru dalam rapat parlemen bulan depan yang bertujuan untuk menghidupkan kembali pertumbuhan.