Tekanan Bertubi-Tubi, Rupiah Berpotensi Sentuh Rp17.550 Pekan Ini
:
0
Ilustrasi nilai tukar rupiah ke dolar AS.
EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian tertekan usai tembus ke level Rp17.400 per USD. Tekanan terhadap mata uang rupiah diperkirakan masih berlanjut, bahkan berpotensi menyentuh Rp17.550.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang kian kompleks.
Dari sisi eksternal, eskalasi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama. Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah terjadi serangan militer Amerika Serikat terhadap pasukan Iran, yang memicu gangguan pada jalur pelayaran energi global.
Selain itu, konflik yang terjadi di Eropa Timur juga turut memperburuk situasi. Serangan drone Ukraina ke sejumlah fasilitas kilang minyak Rusia disebut berdampak pada penurunan produksi minyak hingga sekitar 10 persen, yang kemudian mendorong kenaikan harga minyak dunia, baik Brent maupun WTI.
“Situasi geopolitik ini mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan permintaan dolar AS, sehingga menekan nilai tukar rupiah,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan, lonjakan harga energi tersebut dapat memicu inflasi global yang lebih tinggi. Kondisi itu pula membuka peluang bagi bank sentral global, termasuk The Fed, untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Sementara itu dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari meningkatnya kebutuhan dolar AS. Hingga saat ini, Indonesia masih mengandalkan impor minyak dalam jumlah besar, sehingga kenaikan harga minyak otomatis memperbesar kebutuhan devisa.
Selain itu, memasuki kuartal kedua, kebutuhan valas juga meningkat seiring dengan pembayaran dividen oleh perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa. Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia disebut mengalami tekanan akibat langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valas dan obligasi guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Meski demikian, kinerja neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus, yang sedikit menahan tekanan terhadap rupiah. Namun, indikator manufaktur menunjukkan pelemahan, tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) yang berada di bawah level 50, menandakan kontraksi sektor industri.
Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan pada aktivitas produksi akibat mahalnya bahan baku impor serta gangguan pasokan global.
Related News
Sama Dengan Indonesia, PMI Manufaktur Thailand Juga 'Letoy'
BI: Kenaikan Surplus Neraca Perdagangan Topang Ekonomi Eksternal
Rantai Pasok Global Terganggu, PMI Manufaktur Indonesia April Melemah
Eskalasi Timur Tengah Bawa Dolar Kembali Berfluktuasi
Rupiah Makin Loyo, Hampir Sentuh Rp17.400
Tanggapi Presiden, Bagi UMKM Kemudahan Akses Pembiayaan Lebih Utama





