EmitenNews.com - Seperti diketahui, Harvard University bukanlah sekadar institusi pendidikan tinggi biasa. Di balik citranya sebagai kampus elite, Harvard menjalankan sistem keuangan yang jauh lebih kompleks dan strategis dibandingkan dengan sebagian besar universitas di Indonesia.

Melalui mekanisme endowment fund sebuah dana abadi yang berasal dari donasi alumni, filantropis, dan mitra strategis. Harvard mengelola lebih dari USD 53 miliar dalam bentuk portofolio investasi global. Dana pokok tersebut tidak boleh digunakan, hanya hasil investasinya yang dimanfaatkan untuk mendanai beasiswa, penelitian, pengembangan kampus, dan operasional jangka panjang.

Dalam tahun fiskal 2024, Harvard Management Company (HMC) lembaga investasi profesional milik kampus mencatat return investasi tahunan atau YOI sebesar 9,6% Net. Ini adalah hasil dari strategi alokasi aset yang sangat terdiversifikasi sebesar 39% pada private equity, 32% hedge fund, 14% saham publik, dan sisanya pada real estate, obligasi, dan instrumen kas.

Dari hasil investasi ini, Harvard mendistribusikan sekitar USD 2,2 miliar ke anggaran operasional kampus setara hampir 37% dari total pendapatannya. Sementara opex Harvard mencapai USD 6,4 miliar, belanja modal (capex) dialokasikan untuk pembangunan gedung, fasilitas riset, dan transformasi digital kampus.

Model ini bukan monopoli dari sistem kampus Harvard. Stanford University juga memiliki endowment fund senilai USD 37,6 miliar yang dikelola oleh Stanford Management Company (SMC). Pada tahun fiskal yang sama, Stanford mencatat YOI 8,4%, dengan strategi yang menitikberatkan pada private equity, venture capital, saham publik, dan aset riil. Stanford mendistribusikan USD 1,8 miliar hasil endowment ke anggaran operasionalnya yang mencapai USD 9,7 miliar, dan mencadangkan hampir USD 700 juta untuk capex pembangunan fasilitas baru.

Dari Eropa, Oxford University memiliki struktur yang unik, sekitar £1,3 miliar dikelola langsung oleh universitas pusat, dan sekitar £5 miliar lainnya oleh kolegium yang bersifat otonom. Dana ini dikelola oleh Oxford University Endowment Management (OUem) dengan strategi konservatif dan berprinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).

Oxford menargetkan YoI sekitar 5%, dengan distribusi 4,25% dari nilai aset rata-rata 5 tahun. Pada tahun fiskal terbaru, Oxford membukukan pendapatan sekitar £3,1 miliar dengan capex sebesar £194 juta untuk renovasi dan pengembangan fasilitas akademik.

Sementara itu di Indonesia, model pengelolaan keuangan seperti ini belum menjadi arus utama. Sebagian besar yayasan pendidikan masih bergantung pada pemasukan langsung dari uang kuliah (SPP), uang pangkal, atau hibah. Yayasan jarang memiliki unit investasi, struktur dana abadi, atau strategi alokasi portofolio jangka panjang.

Contoh seperti beberapa kampus di Indonesia yang membuka banyak cabang di berbagai kota di Indonesia. Misalnya, menjalankan ekspansi secara operasional tetapi tidak disertai pengelolaan aset secara finansial yang terstruktur dalam bentuk endowment fund. Padahal, pengembangan cabang jika ditopang oleh dana abadi dapat berlangsung lebih terukur dan tidak membebani mahasiswa dengan biaya tambahan.

Padahal secara hukum dan regulasi, pengelolaan dana yayasan untuk investasi adalah sesuatu yang sah dan memungkinkan, selama dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan transparansi. Yayasan pendidikan dapat mulai membentuk unit pengelola dana baik internal maupun melalui kerja sama dengan fund manager terdaftar dan diawasi OJK.