EmitenNews.com - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menyatakan dukungannya terhadap penjajakan kerja sama sister city antara Sulawesi Utara dan Selandia Baru, yang diarahkan pada pengembangan energi bersih berbasis panas bumi. Inisiatif ini dinilai membuka peluang kolaborasi strategis sekaligus memperkuat posisi Sulawesi Utara sebagai pusat pengembangan energi hijau nasional.

Panas bumi menjadi fokus utama kerja sama mengingat kesamaan karakteristik kedua wilayah, khususnya potensi sumber daya, pariwisata berkelanjutan, dan agrikultur. Bagi PGEO, kemitraan lintas negara ini berpotensi memperluas ekosistem panas bumi, baik dari sisi pengembangan kapasitas, transfer teknologi, hingga peluang investasi jangka panjang.

Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, H.E. Phillip Taula, menilai Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Lahendong sebagai aset strategis yang dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Panas bumi dinilai berpeluang menjadi anchor industry yang menarik investasi dan membentuk klaster industri hijau di kawasan timur Indonesia.

Dari sisi operasional, PGE Area Lahendong saat ini mengoperasikan enam Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan total kapasitas terpasang 120 MW, yang menyuplai sekitar 24 persen kebutuhan listrik Sulawesi Utara. Operasi ini juga berkontribusi pada potensi penurunan emisi hingga 624.000 ton CO? per tahun.

PGEO juga tengah mengakselerasi ekspansi kapasitas melalui pengembangan PLTP Lahendong Unit 7 dan 8 berkapasitas 2x20 MW serta binary unit 15 MW. Proyek-proyek ini menjadi bagian dari strategi pertumbuhan jangka menengah Perseroan dalam memperkuat portofolio energi terbarukan.

Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menyampaikan bahwa pengembangan panas bumi di Lahendong tidak hanya memberikan kontribusi pada bauran energi bersih nasional, tetapi juga berdampak langsung terhadap pendapatan daerah melalui PNBP panas bumi, bonus produksi, serta skema kontribusi pendapatan ke kas daerah. Selain itu, PGEO juga mendorong pengembangan nilai tambah melalui pemanfaatan langsung panas bumi dan rantai bisnis turunannya.

Manajemen menilai penjajakan kerja sama sister city ini berpotensi menjadi katalis positif bagi pengembangan panas bumi di daerah, sekaligus memperkuat narasi pertumbuhan berkelanjutan PGEO di mata investor pasar modal.