EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kembali ditutup bervariasi mayoritas menguat tipis. S&P 500 dan Nasdaq untuk kali kesekian mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah. Namun, kenaikan dibatasi buntunya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Eskalasi baru Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak mentah. Seperti diketahui sebelumnya, Sabtu pekan lalu, Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana mengirim utusan khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner ke Pakistan guna melakukan negosiasi.

Namun, masih membuka ruang melalui sambungan telepon jika Iran ingin melakukan perundingan. Sementara itu, juru bicara menteri luar negeri Iran, Esmaeil Baqaei menyatakan saat ini tidak ada rencana pertemuan antara Teheran dan Washington. Lompatan mayoritas bursa Wall Street diprediksi menjadi sentimen positif pasar. 

Sementara itu, aksi jual masif investor asing dalam jumlah cukup besar, dan rupiah masih cenderung tertekan berpeluang menjadi sentimen negatif indeks harga saham gabungan (IHSG). So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 7.030-6.955, dan resistance 7.185-7.260.

Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan para investor untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, London Sumatera (LSIP), Astra Agro (AALI), Medco (MEDC), Merdeka Gold Resources (EMAS), Merdeka Copper (MDKA), dan Vale Indonesia (INCO). (*)