EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,92 persen menjadi 5.695. Saham sektor energi membukukan kenaikan terbesar 2,61 persen, dan sektor transportasi mengalami pelemahan terbesar 0,91 persen. Rupiah ditutup melemah 0,25 persen menjadi Rp17.952 per dolar Amerika Serikat (USD), seiring koreksi mayoritas mata uang Asia.

IHSG secara teknikal menunjukkan stochastic RSI mendekati area oversold namun MACD berpotensi mengalami death cross. Sehingga diperkirakan IHSG berpeluang berkonsolidasi. Sepanjang perdagangan hari ini, Kamis, 2 Juli 2026, IHSG akan menyusuri kisaran 5.600-5.800.

Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia turun di level 46,9 edisi Juni 2026 dari Mei 2026 di level 50. Level itu, merupakan terendah sejak Juni 2025, dan menandakan kontraksi kedua pada tahun ini. Penurunan antara lain disebabkan koreksi pada pesanan baru, dan penjualan ekspor turun.

Nah, dari neraca perdagangan, secara tidak terduga mencatat defisit USD1,61 miliar edisi Mei 2026, merupakan defisit pertama sejak April 2020. Ekspor mengalami penurunan 5,73 perssen YoY periode Mei 2026, di luar ekspektasi yang diperkirakan tumbuh 6,4 persen YoY.

Impor tumbuh 22,16 persen YoY, lebih tinggi dari estimasi sebesar 19,5 persen, terutama didorong kenaikan impor migas. Laju inflasi berakselerasi di level 3,34 persen edisi Juni 2026 dari Mei 2026 di level 3,08 persen YoY, dan di atas perkiraan yang sebesar 3,2 persen YoY. Itu level inflasi tertinggi sejak Maret 2026, namun masih dalam kisaran target Bank Indonesia.

Kenaikan inflasi seiring lompatan harga Pertamax sejak 10 Juni 2026 lalu. Inflasi inti menjadi 2,76 persen YoY di Juni 2026 dari Mei 2026 di posisi 2,59 persen YoY, serta berada pada level tertinggi dalam 38 bulan terakhir. Fitch Ratings menilai cadangan devisa Indonesia tetap tertekan meski BI telah menaikkan BI rate 100 bps.

Sentimen investor masih lemah akibat kekhawatiran akan kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, dan rencana ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor menyapu saham Berito (BRPT), Essa Industries (ESSA), Japfa (JPFA), Erajaya (ERAA), dan Rukun Raharja (RAJA). (*)