Fokus Pasar Domestik, Ekonom Ragukan Ekonomi RI Tumbuh 8%
:
0
Ekonom Indef dan Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, PhD.(Foto: RMOL.id)
EmitenNews.com - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai kebijakan ekonomi Indonesia saat ini terlalu fokus pada pasar domestik atau inward looking. Kondisi ini membuat pertumbuhan ekonomi nasional tertahan pada level moderat sekitar 5 persen.
Pemerintah dinilai perlu mengubah orientasi kebijakan ekonomi menjadi outward looking untuk mengejar target pertumbuhan sebesar 7 hingga 8 persen seperti yang dicapai Vietnam. Perubahan strategi ini mendesak dilakukan agar ekonomi nasional dapat bertumbuh lebih tinggi melalui penguatan sektor luar negeri.
"Kelemahan, kekurangan atau bahkan kesalahan kebijakan ekonomi terkait upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi utamanya hanya satu yakni mengabaikan sektor luar negeri. Seluruh upaya dan dinamika selama ini terlalu inward looking," ujar Didik J. Rachbini dalam keterangan tertulisnya, Minggu (9/8/2026).
Didik menjelaskan bahwa belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat tidak dapat terus diandalkan untuk menopang pertumbuhan jangka panjang. Saat ini daya beli masyarakat berisiko tertahan akibat jumlah kelompok kelas menengah di Indonesia yang tergerus dan mengalami penurunan.
"Belanja pemerintah tidak bisa diandalkan untuk pertumbuhan tinggi. Selama ini belanja pemerintah tidak akan langgeng karena hanya menjadi penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh di bawah 5 persen," kata Didik J. Rachbini.
Sektor luar negeri sejauh ini belum dijadikan sebagai mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi nasional. Kebijakan ekonomi masih didominasi oleh fokus pada substitusi impor, penguasaan sumber daya domestik, serta konsumsi di dalam negeri.
Pemerintah diharapkan membuka ruang investasi luar negeri dengan menghadirkan sistem insentif yang menarik, dukungan infrastruktur yang memadai, serta birokrasi yang ramah dan efisien. Langkah tersebut pernah diterapkan Indonesia pada era 1980-an yang berhasil memicu pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen selama dua dekade melalui industri berorientasi ekspor.
Pemanfaatan pasar luar negeri sebagai dorongan utama dinilai penting agar pelaku usaha nasional mampu naik kelas dalam persaingan global. Transformasi kebijakan berorientasi ekspor diharapkan dapat memperkuat daya saing industri, menggaet investasi asing, serta menambah cadangan devisa negara.(*)
Related News
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2.690.000 per Gram
Jepang Tak Ragu Kembali Intervensi Untuk Tahan Yen
Indonesia Pacu Manufaktur via BRICS
Harga Rumah Mewah Naik, Rumah Tipe Kecil Melambat
Ini Sebab Banyak Pelaku Usaha Tahan Ekspansi Meski Suku Bunga Turun
SpaceX Melesat 16%, Terbangkan S&P 500 ke Rekor Tertinggi





