Gelombang Tekanan Belum Surut, IHSG Rawan Memerah Lagi
ilustrasi papan perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Dok/EmitenNews
EmitenNews.com - Dari global, rilis data suku bunga The Fed pada (13/6), yang diperkirakan tetap di level 5.50%. Selain itu, pidato dari The Fed juga diharapkan memberikan gambaran mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga pada September 2024. Di sisi lain, data inflasi Amerika yang akan dirilis pada (12/6) diperkirakan stabil di 3.40%. Inflasi yang terkendali ini dapat memperbesar peluang pemangkasan suku bunga di bulan September. Selain itu, Inggris menantikan rilis data GDP bulan April 2024 yang diperkirakan tumbuh ke level 0.70%.
Dari regional, pasar menantikan keputusan suku bunga Jepang yang diperkirakan tetap di level 0.10%. Rilis data GDP Growth Annualized Final kuartal pertama juga diantisipasi, dengan perkiraan penurunan ke level -0.20% dari kuartal sebelumnya yang berada di 0.40%. Selain itu, inflasi di China untuk bulan Mei 2024 diperkirakan tetap stabil di level 0.30%.
Di dalam negeri, rilis data penjualan ritel diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan ke level 11% dari bulan sebelumnya yang berada di 9%. Data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga diperkirakan tetap stabil dalam zona optimis (>100), dengan kemungkinan tumbuh terbatas pada bulan Mei ke level 128 dari 127.70 pada April.
Dari Asia, investor mencerna rilis data Neraca Perdagangan Tiongkok dimana surplus melebar menjadi USD 82.6 miliar di bulan Mei dari USD 65.5 miliar pada periode yang sama tahun lalu, lebih besar dari ekspektasi pasar yang surplus USD 73 miliar.
Ini adalah surplus Neraca Perdagangan terbesar sejak Februari seiring dengan laju pertumbuhan ekspor yang lebih cepat dari laju pertumbuhan impor. Ekspor tumbuh 7.6% Y/Y di bulan Mei, tertinggi dalam empat bulan dan lebih baik dari ramalan pasar yang tumbuh 6.0% Y/Y. Impor naik 1.8% Y/Y, turun tajam dari 8.4% Y/Y di bulan April dan lebih rendah dari konsensus pasar yang naik 4.2% Y/Y.
Yugen Sekuritas memperkirakan IHSG di awal pekan ini masih tertekan dan bergerak di batas bawah 6789 dan batas atas 7034.
Perkembangan pola gerak IHSG masih terkonsolidasi wajar dan dibayangi dengan pola tekanan yang masih tergolong besar, selain itu tekanan yang terjadi saat ini masih dipengaruhi oleh sentimen dari fluktuasi nilai tukar Rupiah dan terjadinya capital outflow yang tercatat secara ytd.
“Sehingga masih cukup besarnya peluang tekanan tetap perlu diwaspadai oleh para investor, hari ini IHSG berpotensi terkonsolidasi. Saham pilihan jatuh pada ITMG, BMRI, SMGR, LSIP, JSMR, GGRM, AKRA, BSDE,” tutup CEO Yugen Sekuritas William Wijaya.
Related News
IHSG Tumbang di Penutupan Pekan, Merosot 53 Poin ke 8.212
Bangun Ekosistem Syariah, BSN Gandeng UNS
Nyemek ala Warmindo Makin Hype!
IHSG Melemah ke 8.218, Saham Big Caps Tekan Indeks
KISI Raih Obligasi Rupiah Terbaik 2025 di Alpha Southeast Asia Award
SMV Kemenkeu Kucurkan Rp4,48 Miliar Untuk Bangun 56 Rumah Layak Huni





