Gendong Segmen Rugi, DEWA Toreh Efisiensi Ciamik & Laba Naik 114%
:
0
Gendong Segmen Rugi, DEWA Toreh Efisiensi Ciamik & Laba Naik 114%. Foto DarmaHenwa
EmitenNews.com - Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026, PT Darma Henwa Tbk membukukan pendapatan sebesar Rp5,10 triliun, tumbuh 9,71 persen dari periode yang sama tahun lalu di angka Rp4,65 triliun. Pertumbuhan omzet ini diikuti dengan kemampuan perseroan dalam menekan pengeluaran operasional secara efektif.
Tercatat, beban pokok pendapatan hanya naik tipis sebesar 2,26 persen menjadi Rp4,06 triliun. Tingkat efisiensi inilah yang menjadi katalis utama bagi laba kotor perseroan untuk naik 53,72 persen menjadi Rp1,03 triliun. Meskipun beban usaha dan administrasi mengalami peningkatan 77,40 persen menjadi Rp322,35 miliar, laba operasional tetap terjaga positif dengan pertumbuhan 44,97 persen di angka Rp712,43 miliar.
Ditambah dengan adanya keuntungan atas perubahan nilai wajar investasi saham senilai Rp229,37 miliar, laba bersih entitas induk pada akhirnya tercatat meningkat 114,55 persen menjadi Rp513,08 miliar dari sebelumnya Rp239,14 miliar.
Fokus Murni di Jasa Kontraktor Tambang
Untuk memberikan pemahaman bisnis yang utuh, perlu ditegaskan bahwa seluruh urat nadi pendapatan perseroan bersumber dari jasa kontraktor pertambangan. Sesuai dengan anggaran dasar perseroannya, DEWA tidak memiliki operasi maupun aset di sektor perkebunan.
Kegiatan operasional utamanya mencakup jasa pengupasan tanah, pemindahan batu bara, penyewaan alat berat, reparasi mesin, hingga pengerjaan konstruksi sipil untuk penyiapan lahan tambang. Saat ini, pusat perputaran kas perseroan terkonsentrasi di proyek-proyek wilayah tambang Kalimantan, yang meliputi operasional di area Asam Asam, Bengalon, dan Senakin.
Risiko Ketergantungan Pendapatan pada Entitas Afiliasi
Di balik pertumbuhan laba yang signifikan, struktur pendapatan perseroan memperlihatkan risiko konsentrasi yang sangat tinggi pada klien berelasi. Dari total omzet Rp5,10 triliun, sebanyak 97,67 persen atau setara Rp4,98 triliun ditopang langsung oleh perusahaan di dalam ekosistem Grup Bakrie.
Ketergantungan absolut ini didominasi oleh pesanan dari PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar Rp3,58 triliun yang menyumbang porsi 70,33 persen terhadap total pendapatan. Di urutan berikutnya, PT Arutmin Indonesia menyokong Rp1,39 triliun atau mewakili 27,34 persen.
Sebaliknya, pendapatan perseroan dari klien pihak ketiga justru menyusut 41,78 persen, tersisa hanya Rp119,03 juta dari sebelumnya yang berada di level Rp204 miliar. Dinamika ini menunjukkan bahwa laju arus kas perseroan memiliki independensi yang terbatas dan sangat bergantung pada kepastian proyek dari KPC serta Arutmin.
Related News
BYAN Sebelum vs Sesudah Dicaplok Haji Isam
Pendapatan Boleh Gacor, Kenapa Kantong WSKT Masih Jebol di Q3-2026?
Suspended Gegara Free Float, Saham Mertua Syahrini Mau Bagi Dividen
9 Tahun 1.500 Gerai, Kopi Kenangan Pilih Debut di Bursa Singapura?
Sentimen Positif CPO, Efisiensi Operasional Jadi Kartu As Saham AALI?
Prapenjualan Residensial Melandai, Pendapatan Berulang BSDE Tumbuh 19%





