EmitenNews.com - PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) atau GMF resmi melakukan inaugurasi pemanfaatan fasilitas di Pondok Cabe untuk mendukung kegiatan maintenance tipe pesawat ATR.

Direktur Utama GMFI, Andi Fahrurrozi mengatakan bahwa pemanfaatan fasilitas tersebut menambah fleksibilitas operasional GMF dalam memberikan lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan maintenance pelanggan sekaligus mendukung peningkatan kapasitas layanan Perseroan.

Di segmen airframe, Andi juga menyampaikan berhasil merampungkan reaktivasi dua pesawat Airbus A320 dan satu pesawat ATR milik Citilink. 

Selain itu, di pasar internasional, GMF terus memperkuat portofolio layanan melalui penyelesaian overhaul landing gear K-Mile Air, penyelesaian C-Check pesawat Boeing 747 Pecotox Air, serta mendukung inaugural flight T’way Air. Dalam memperkuat kapabilitas dan standar layanan, GMF berhasil memperoleh sertifikasi AS9100D dari SIRIM QAS International, Malaysia.

“Sertifikasi ini menegaskan penerapan sistem manajemen mutu berstandar internasional untuk industri aviasi, antariksa, dan pertahanan, sekaligus membuka peluang pengembangan bisnis Perseroan pada bidang aerostructure,” ujar Andi dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (19/9).

Kinerja Semester I Tumbuh 

Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian Interim per 30 Juni 2026, GMF membukukan pendapatan (revenue) sebesar USD270,29 juta, meningkat 51% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar USD178,96 juta.

Pertumbuhan pendapatan tersebut turut diikuti dengan penguatan profitabilitas Perseroan. EBITDA GMF tercatat sebesar USD34,82 juta, meningkat 39,1% secara tahunan, sementara laba berjalan mencapai USD10,81 juta.

Andi mengatakan, pertumbuhan pendapatan pada kuartal II didukung oleh peningkatan pendapatan Time Material Basis (TMB) baik dari Garuda Indonesia Group maupun non-Grup, khususnya yang berkaitan dengan reaktivasi pesawat pada segmen airframe dan pekerjaan engine milik lessor pada segmen engine.

“Di tengah peningkatan aktivitas tersebut, GMF juga berhasil menjaga beban operasional lainnya sehingga laba operasi tetap mampu menutupi beban finansial serta dampak rugi selisih kurs di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah hingga akhir kuartal kedua,” ujar Andi.