EmitenNews.com - Bhineka Inovasi Ketahanan Energi (BIKE) menggarap proyek Rp1 triliun. Itu berupa pengembangan Pasar Minggu, dan fasilitas penunjang lainnya. Misalnya, kios, dan los bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Lalu, rumah susun (Rusun), rumah sakit, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga food court. Proyek prestisius itu didapat Bhineka dari Perumda Pasar Jaya. Di mana, Bhineka via anak usaha yaitu Ratu Karya telah meneken memorandum of understanding (MoU) dengan PD Pasar Jaya.

Rencana kerja sama strategis tersebut telah dipatenkan pada 18 September 2026. Kerja sama perjanjian pembangunan Pasar Minggu, Jakarta Selatan itu, menyerap investasi Rp1 triliun,” tegas Eric Kusuma, Direktur Utama Bhineka Inovasi Ketahanan Energi.

Eric menyebut pelaksanaan lebih lanjut kerja sama tersebut akan bergantung pada hasil kajian, dan pememuhan syarat teknis, legal, komersial, finansial, perizinan, persetujuan korporasi, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” imbuh Eric.

Sejak IPO Saham Melangit 565 Persen

Menyusul teken kerja sama itu, saham BIKE bertiup kencang. Menyentuh batas atas alias auto reject atas (ARA). Melangit 9,71 persen setara 100 poin menjadi Rp1.130 per helai. Mengawali perdagangan, saham BIKE bertengger di level Rp1.125 sekaligus sebagai level terendah, dan menyentuh level tertinggi Rp1.130.

Sebulan terakhir, saham BIKE telah meroket 126,91 persen atau 632 poin dari periode 24 Agustus 2026 di posisi Rp498. Bakhan, kalau dikalkulasi sepanjang 6 bulan terakhir, saham BIKE telah melangit 192,75 persen selevel dengan 744 persen dari edisi 25 Maret 2026 di area Rp386 per eksemplar.

Kalau dihitung dari harga Initial Public Offering (IPO) Rp170 per helai pada 21 Maret 2022, saham BIKE melonjak 960 poin alias 564,7 persen. Dalam tempo 52 minggu terakhir, saham BIKE menyundul posisi tertinggi Rp1.130, dan terendah di kisaran Rp350. BIKE dibekali kapitalisasi pasar Rp1,46 triliun.

Performa Keuangan Babak Belur

Sepanjang semester I 2026, BIKE tekor Rp33,38 miliar. Longsor 609 persen dari episode sama tahun lalu dengan koleksi laba Rp6,54 miliar. Penjualan bersih Rp121,16 miliar, susut 30,27 persen dibandiny posisi sama tahun sebelumnya Rp173,76 miliar. Beban pokok penjualan Rp133,97 miliar, turun dari Rp146,37 miliar.