IDXINDUST

 0.00%

IDXINFRA

 0.00%

IDXCYCLIC

 0.00%

MNC36

 0.00%

IDXSMC-LIQ

 0.00%

IDXHEALTH

 0.00%

IDXTRANS

 0.00%

IDXENERGY

 0.00%

IDXMESBUMN

 0.00%

IDXQ30

 0.00%

IDXFINANCE

 0.00%

I-GRADE

 0.00%

INFOBANK15

 0.00%

COMPOSITE

 0.00%

IDXTECHNO

 0.00%

IDXV30

 0.00%

ESGQKEHATI

 0.00%

IDXNONCYC

 0.00%

Investor33

 0.00%

IDXSMC-COM

 0.00%

IDXBASIC

 0.00%

IDXESGL

 0.00%

DBX

 0.00%

IDX30

 0.00%

IDXG30

 0.00%

ESGSKEHATI

 0.00%

IDXSHAGROW

 0.00%

KOMPAS100

 0.00%

PEFINDO25

 0.00%

BISNIS-27

 0.00%

ISSI

 0.00%

MBX

 0.00%

IDXPROPERT

 0.00%

LQ45

 0.00%

IDXBUMN20

 0.00%

IDXHIDIV20

 0.00%

JII

 0.00%

IDX80

 0.00%

JII70

 0.00%

SRI-KEHATI

 0.00%

IDXLQ45LCL

 0.00%

SMinfra18

 0.00%

KB Bukopin
Sinerco

Hal 2: Bosowa Cabut, Seperti Apa Laju Bisnis dan Proyeksi Saham KB Bukopin (BBKP) di 2022?

19/01/2022, 09:30 WIB

Hal 2: Bosowa Cabut, Seperti Apa Laju Bisnis dan Proyeksi Saham KB Bukopin (BBKP) di 2022?

EmitenNews.com - Manajemen baru PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) menegaskan saat ini perseroan memiliki target pasar baru yang potensial yaitu Indo-Korea link, disamping itu strategi rebranding yang telah dilakukan dengan menggunakan brand image KB Kookmin Bank meningkatkan pertumbuhan nasabah baru dengan pesat. Dimana saat ini nasabah baru telah menjadi penopang utama pertumbuhan DPK. Tingginya antusiasme nasabah baru tersebut akan dioptimalkan Bank sebagai bagian dari media promosi untuk terus membuka pangsa pasar baru.


Selain itu, perkembangan digital Banking sudah sangat pesat dimana 78% nasabah perbankan sudah menggunakan layanan digital banking. Saat ini Bank telah memiliki produk digital wokee, namun market share produk tersebut masih belum maksimal. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut serta memenangkan persaingan digital banking yang kompetitif, Bank menetapkan strategic “New Digital & IT Infra” melalui revamp pada aplikasi digital banking dan implementasi sistem New Generation Banking System (NGBS) untuk “New Go-To-Market Strategy”, “Operational excellence” dan “Proactive response to Risk”.


Implementasi NGBS diharapkan dapat meningkatkan pangsa pasar Bank dengan membangun kapabilitas (value proposition pada digital banking) dan penawaran produk baru untuk menangkap peluang pasar yang lebih besar, memanfaatkan digital disruption di pasar perbankan Indonesia, ujar Tias Hardi Corporate Secretary BBKP kepada EmitenNews.com.


Wijen Pontus, CTA, CEWA sebagai CEO PT. Kanaka Hita Solvera saat dihubungi EmitenNews.com mengatakan posisi BBKP saat ini sedang berada di akhir koreksi dari wave 2, sehingga dari perspektif Elliott Wave harusnya BBKP berpeluang untuk naik dan memulai uptrend wave 3 dg target terdekat jangka pendek di 280,300 dan target menengah di 350


Sementara Analis Reliance Sekuritas Alwin Rusli memandang, Aksi korporasi yang terjadi belakangan ini, dimana BBKP melakukan right issue untuk memperoleh dana tambahan, yang mana pada saat itu masuk investor besar KB Kookmin Bank Co, Ltd, memberikan kesan yang kurang memuaskan kepada para investor BBKP, pasalnya harga eksekusi rights pada saat itu adalah Rp 200 per lembar, dimana harga pasarnya pada saat itu berada di sekitar Rp 400 per lembar. 


Persepsi investor pada kala itu, harga pasar BBKP diperdagangkan dengan harga yang premium dibandingkan dengan harga eksekusi right, sehingga pada saat ex date rights saat itu di tanggal 17/11 harga pasar BBKP terus mengalami penurunan mendekati harga eksekusi rights. Perlu diketahui, niat BBKP untuk melakukan rights issue pada awalnya berasal dari rendahnya rasio Capital Adequacy Ratio (CAR), yang turun pada saat kuartal 3 2021 menjadi 12,14% dari 16,34% dari periode sebelumnya, yang masih jauh dari rata-rata CAR perbankan di sekitar 20% keatas.


Dari hal lain, aksi perusahaan dalam memberi pinjaman ke anak usahanya PT Bank Bukopin Syariah (KBBS) sebesar Rp 350 miliar menjadi salah satu sentimen negatif bagi BBKP. Di satu sisi, diketahui bahwa anak usaha KBBS meskipun dimiliki secara mayoritas oleh BBKP lebih dari 90% sehingga laporan keuangannya terkonsolidasi, namun karena placement tersebut BBKP mengalami penurunan CAR sebesar 0,6%. Perubahan CAR belakangan ini menjadi isu yang cukup sensitif bagi pada investor terhadap saham BBKP, oleh sebab itu, pergerakan harga saham masih belum mengalami perbaikan, karena para investor mempersepsikan nilai intrinsik BBKP yang masih rendah.


Dari sisi laporan keuangan, BBKP mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 361 miliar pada periode Q3/2021, mengecil dibandingkan rugi pada periode Q3/2020 sebesar Rp 1,06 triliun. Pendapatan bunga turun 23,77% secara YoY menjadi Rp 3,19 triliun pada Q3/2021, dari Rp 4,19 triliun pada periode Q3/2020. Namun, meski pendapatan bunga turun, pendapatan bunga bersih berhasil tumbuh 31,38% secara tahunan menjadi Rp 611,15 miliar pada Q3/2021. Parameter-parameter perbankan terlihat masih cukup baik, NPL gross BBKP berhasil turun menjadi 8,15% per Q3/2021, dari posisi periode yang sama tahun lalu sebesar 8,50%. Rasio NPL net juga turun menjadi 4,94%, dari periode yang sama pada tahun lalu sebesar 4,95%. Kemudian net interest margin (NIM) tercatat naik, dari sebesar 0,58% pada Q3/2020 menjadi 0,91% pada periode Q3/2021.


Dari sekian sentimen di pasar yang ada, kelihatannya BBKP hanya dapat mengandalkan perubahan-perubahan secara internal agar kinerja keuangannya lebih baik lagi. Disamping itu, perusahaan juga tengah mengembangkan ekosistem perbankan digital dengan perbaikan infrastruktur teknologi informasi (IT). Tentunya hal ini akan sejalan dengan maraknya tren saham bank digital saat ini yang terasa di market, karena potensi menggarap nasabah dari platform digital masih sangat tinggi.


Manajemen menyatakan bahwa seluruh lini bisnis BBKP akan terus dilakukan pembaharuan terutama dari sisi perkreditan. Perusahaan berupaya untuk mengidentifikasi kelemahan-kelemahan operasionalnya. Beberapa perbaikan internal yang akan dilakukan perusahaan yaitu: pembentukan credit regional center (CRC) untuk membuat proses kredit lebih cepat, terstandarisasi, dan prudent. Sedangkan untuk menyelesaikan permasalahan kredit yang sudah ada, perusahaan telah membentuk special asset management (SAM), tutup Alwin.


Author: Rizki