EmitenNews.com - Harga emas dunia melemah di bawah 4.000 USD per ons pada Selasa akibat eskalasi ketegangan di Selat Hormuz setelah Presiden AS Donald Trump memblokir kapal Iran.

Menurut data dari Trading Economics, harga emas turun hampir 3 persen pada sesi sebelumnya. Tren penurunan ini juga diikuti oleh komoditas perak yang bertahan di bawah 58 USD per ons setelah merosot hampir 4 persen.

Langkah agresif Amerika Serikat tersebut diambil setelah meningkatnya permusuhan antara Washington dan Teheran. Pemerintah AS secara aktif menargetkan kemampuan maritim Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang sekutu-sekutu AS di kawasan tersebut.

Kebijakan Donald Trump yang mengembalikan blokade kapal Iran dan meminta penggantian biaya pengamanan dari negara-negara yang diuntungkan langsung memicu lonjakan tajam harga minyak dunia. Akibatnya, kekhawatiran global terhadap inflasi dan prospek suku bunga kembali memuncak.

Saat ini, fokus pelaku pasar global juga tertuju pada rilis data inflasi AS yang krusial serta kesaksian Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, di depan Kongres AS. Pernyataan Warsh akan dianalisis secara cermat untuk membaca arah kebijakan moneter ke depan.

Berdasarkan data pasar saat ini, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September melonjak menjadi 51 persen, berbanding terbalik dengan peluang 23 persen bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuan.

Bagi Indonesia, fluktuasi harga komoditas global ini bisa membawa dampak signifikan. Lonjakan harga minyak dunia berpotensi menaikkan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) domestik dan menekan nilai tukar Rupiah.

Di sisi lain, penurunan harga emas global dapat mempengaruhi nilai investasi masyarakat dan cadangan devisa negara, sementara prospek kenaikan suku bunga The Fed berisiko memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia. Pelaku pasar domestik kini bersiap mengantisipasi dampak rambatan ekonomi dari ketidakpastian geopolitik Timur Tengah ini.(*)