EmitenNews.com - Harga emas global menutup pekan perdagangan 18–22 Agustus 2026 dengan lonjakan spektakuler hingga resmi melampaui ambang batas USD4.600 per ons dan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Kenaikan mingguan lebih dari 5% ini menandai penguatan tiga minggu berturut-turut bagi logam mulia tersebut.

Mengutip laporan Biggo Finance, pada penutupan perdagangan 22 Agustus 2026, harga emas global di platform Kitco berada di angka USD4.604,40 per ons, naik USD84,30 atau 1,87% dari sesi sebelumnya. Dalam sesi tersebut, harga bahkan sempat menyentuh level tertinggi USD4.631 per ons.

Pemicu utama reli emas berasal dari keputusan Departemen Keuangan AS yang memperluas program pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada 21 Agustus mengindikasikan perluasan program tersebut setelah sehari sebelumnya mengumumkan rencana penggandaan ukuran buyback. Langkah ini menekan imbal hasil obligasi Treasury 30 tahun dan mendorong dolar AS menuju level terendah tiga bulan. Selain itu, ketidakstabilan di Selat Hormuz turut meningkatkan permintaan aset safe-haven.

Dari sisi kelembagaan, dana ETF emas terbesar dunia, SPDR Gold Trust, mencatatkan akumulasi pembelian bersih hingga 25 metrik ton emas dalam tiga sesi terakhir, membawa total kepemilikannya mendekati 1.047 metrik ton.

"Jika momentum saat ini berlanjut, level resistensi berikutnya untuk harga emas adalah USD4.700 per ons," ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas di TD Securities. Namun, ia memperingatkan bahwa depresiasi dolar AS dapat menciptakan volatilitas jangka pendek.

Meskipun gambaran makroekonomi AS menunjukkan PMI komposit naik ke level 56 poin, pasar saat ini memperkirakan probabilitas 65% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan September mendatang.

Lonjakan harga emas dunia melampaui USD4.600 per ons ini berpotensi menjadi katalis pendorong kenaikan harga emas batangan di dalam negeri Indonesia, seperti emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Pegadaian.

Pelemahan dolar AS yang menyertai kenaikan emas juga berpotensi memberikan ruang penguatan bagi nilai tukar Rupiah. Meski demikian, investor ritel di Indonesia harus tetap mencermati tingkat volatilitas harga emas lokal akibat dinamika nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.(*)