EmitenNews.com - Lonjakan harga bahan baku akibat konflik Timur Tengah mulai terasa ke kinerja emiten kemasan plastik PT Yanaprima Hastapersada Tbk. Manajemen mengakui harga polypropylene (PP) melonjak tajam dan pasokannya pun terbatas, memaksa Perseroan melakukan penyesuaian strategi.

“Dampak konflik di Timur Tengah ini harga bahan baku polypropylene PP sangat meningkat tinggi, yang Perseroan dapat lakukan adalah berusaha untuk menyesuaikan harga jual mengikuti kenaikan harga bahan baku PP,” jelas manajemen dalam laporan hasil paparan publik dikutip Minggu, (19/4/2026).

Di tengah tekanan tersebut, YPAS menghadapi dilema. Di satu sisi, harga bahan baku terus naik, namun di sisi lain pelanggan tetap membutuhkan produk kemasan plastik untuk menjaga operasional industri mereka tetap berjalan.

Dari sisi kinerja, tekanan mulai terlihat pada segmen kantong semen yang mengalami penurunan permintaan. Padahal, segmen ini sebelumnya menjadi salah satu kontributor besar penjualan.

Sepanjang 2025, struktur penjualan YPAS didominasi karung plastik sebesar 43,9%, disusul kantong semen 36,4%, serta roll sheet dan sandwich sheet sebesar 18,8%. Menariknya, segmen terakhir justru mencatat pertumbuhan, terutama dari pasar ekspor.

Untuk mengimbangi penurunan di pasar domestik, Perseroan mulai agresif menggarap ekspor. Langkah ini dinilai cukup efektif sebagai bantalan kinerja di tengah lemahnya permintaan dalam negeri.

Perkuat fundamental

Namun, YPAS masih menahan ekspansi. Perseroan belum berencana menambah kapasitas produksi, khususnya untuk segmen roll sheet dan sandwich sheet, mengingat kondisi pasar yang dinilai belum stabil.

Fokus utama saat ini justru pada penguatan fundamental internal. Salah satunya melalui pengelolaan arus kas yang lebih ketat, termasuk restrukturisasi skema pembayaran pelanggan—mulai dari pembayaran di muka hingga pemangkasan tenor kredit.

Secara geografis, penjualan YPAS masih didominasi pasar lokal sebesar 85,1%, sementara ekspor berkontribusi 14,9%.

Meski dihadapkan pada tekanan global, manajemen tetap optimistis industri karung plastik masih punya prospek di 2026. Dengan strategi efisiensi, peningkatan produktivitas, dan menjaga pasokan ke pelanggan, Perseroan berharap mampu menjaga kinerja hingga situasi kembali stabil.