Hasil Tajak di Sumur Pengembangan ABB-143 Hasilkan 3.672 BOPD Minyak
KKKS PT Pertamina EP Asset 2 (PT PHR Region 1 Zona 4) berhasil melakukan tajak dan uji produksi di sumur pengembangan Abab-143 (ABB-143).(Foto: Dok SKK Migas)
EmitenNews.com - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan temuan signifikan di akhir tahun 2025. KKKS PT Pertamina EP Asset 2 (PT PHR Region 1 Zona 4) berhasil melakukan tajak dan uji produksi di sumur pengembangan Abab-143 (ABB-143).
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan hasil uji produksi sementara mencatatkan angka fantastis sebesar 3.672 BOPD (Barrels of Oil Per Day) pada kondisi open choke.
“Alhamdulillah, tak henti-hentinya Allah SWT mengabulkan doa Bapak dan Ibu serta kerja keras para pejuang minyak di lapangan untuk ketersediaan energi bagi masyarakat,” ungkap Djoko seperti dikutip Ruang Energi.
Sumur yang sebelumnya dikenal sebagai Abab (ABB)-U1 ini terletak di posisi strategis, sekitar 95 km sebelah Barat Laut kota Palembang. Lokasi ini dikelilingi oleh lapangan-lapangan potensial lainnya seperti Lapangan Dewa, Lapangan Raja, dan Air Hitam.
Pengeboran ini difokuskan pada target utama lapisan batuan formasi TAF-E, dengan target tambahan pada lapisan TAF-D. Operasi dilakukan menggunakan Rig PDSI #01.2/N80B-M berkekuatan 1.000 HP.
Salah satu sorotan utama dari keberhasilan ini adalah efisiensi operasional yang luar biasa. Sumur dibor secara Directional (J-Type) hingga kedalaman akhir 1.721 mMD.
Seluruh proses, mulai dari tajak pada 7 Desember 2025 hingga fase uji produksi pada 30 Desember 2025, hanya memakan waktu 24 hari.
Dari sisi finansial, realisasi biaya pun sangat efisien. Estimasi biaya lapangan (field estimate) tercatat sebesar USD 3.687.887,77. Angka ini hanya 70,70% dari total Authorization for Expenditure (AFE) yang disetujui oleh SKK Migas. Artinya, Pertamina EP berhasil melakukan penghematan anggaran yang signifikan dengan hasil produksi yang justru melimpah.
Pasca penemuan ini, tim di lapangan akan melanjutkan uji produksi untuk menentukan laju alir (rate) yang paling optimum. Hal ini krusial untuk menjaga “kesehatan” dan kualitas reservoir agar dapat berproduksi dalam jangka panjang.
“Operasional berikutnya adalah melanjutkan uji produksi dan kemudian dialirkan dengan rate yang optimum untuk menjaga kualitas reservoir,” tambah Djoko.(*)
Related News
TKDN Industri Hulu Migas Hingga 2025 Setara Rp388 Triliun
IHSG Bertabur ATH, Investor Tunggu Prabowo Buka Perdagangan 2026
Perkembangan Terbaru si Saham Rp1
Saham di Bawah Gocap, Masih Mantap atau Bikin Engap?
Pupuk Indonesia Siap Gelontorkan 9,8 Juta Ton Pupuk Subsidi di 2026
Dana Darurat Untuk 3 Provinsi Bencana Sementara Terkucur Rp268 Miliar





