Hormuz Mencekam, Harga Minyak Dekati USD96
:
0
Harga minyak mentah dunia mencatatkan lonjakan tajam pada perdagangan Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 10%. (Foto: Magnific)
EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia mencatatkan lonjakan tajam pada perdagangan Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 10%. Lonjakan harga energi global ini dipicu oleh eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah serta gangguan jalur distribusi di Selat Hormuz.
Menurut data Trading Economics, harga minyak mentah AS kini bergerak mendekati USD92 per barel. Pada saat yang sama, harga minyak mentah jenis Brent menguat hingga mendekati USD96 per barel.
Eskalasi ketegangan bermula saat Amerika Serikat meluncurkan serangan baru terhadap Iran setelah situasi relatif tenang selama satu bulan. Langkah tersebut memicu aksi balasan dari Teheran yang menargetkan pangkalan militer AS di kawasan tersebut serta kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Dampak konflik tersebut menurunkan lalu lintas kapal secara signifikan. Pada Rabu, hanya ada enam kapal komoditas yang berani melintasi Selat Hormuz. Jumlah tersebut turun dibanding Selasa yang mencatatkan 11 kapal, serta jauh di bawah rata-rata harian 10 hari terakhir yang mencapai hampir 13 kapal.
Sektor pasokan energi dunia makin tertekan akibat kerusakan pada sejumlah kilang minyak di kawasan Timur Tengah dan Rusia. Keterbatasan kapasitas kilang di wilayah lain untuk menutupi celah pasokan diperkirakan akan menahan harga bahan bakar global tetap tinggi hingga tahun depan.
Di AS, harga solar telah menembus level tertinggi sejak pertengahan 2022, sementara persediaan solar di Eropa bertahan jauh di bawah batas normal musiman.
Perkembangan harga minyak mentah dunia ini berpotensi memberikan tekanan langsung terhadap perekonomian Indonesia. Lonjakan harga yang mendekati USD96 per barel telah jauh melampaui asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) dalam APBN sebesar USD70 per barel.
Sebagai negara pengimpor neto minyak (net oil importer), kondisi ini memicu ancaman pembengkakan beban subsidi energi serta berisiko mengerek angka inflasi nasional akibat kenaikan biaya logistik dan BBM.(*)
Related News
Pernyataan Waller Dongkrak Harga Emas, Dolar AS Loyo
BI Naikkan Insentif KLM Jadi 6 Persen Demi Genjot Kredit
Kinerja Saham AS Datar Jelang Rilis Laporan Tenaga Kerja
Protelindo Raih Peringkat Outlook Stabil Fitch Ratings, Ini Artinya
Avrist Perkuat Sinergi 4 Jasa Keuangan Semua Layanan Saling Melengkapi
Ekspor Listrik Hijau ke Singapura Belum Jelas, PNRE jadi Ikut Bingung





