Kinerja Saham AS Datar Jelang Rilis Laporan Tenaga Kerja
:
0
Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak datar pada perdagangan Jumat karena investor bersikap hati-hati menunggu rilis laporan penggajian (payroll) Agustus.(Foto: Magnific)
EmitenNews.com - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak datar pada perdagangan Jumat karena investor bersikap hati-hati menunggu rilis laporan penggajian (payroll) Agustus. Data ketenagakerjaan tersebut dinilai krusial untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja serta memprediksi arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Perkembangan di bursa global ini berpotensi memberikan dampak bagi pasar keuangan Indonesia. Pergerakan indeks di Wall Street serta prospek suku bunga AS kerap memengaruhi arus modal asing dan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan data Trading Economics, perdagangan setelah jam kerja reguler diwarnai pergerakan saham individu secara variatif. Saham DocuSign melonjak 4% setelah mencatatkan pendapatan dan laba kuartal II yang melampaui estimasi pasar. Perusahaan teknologi tersebut turut menaikkan target penjualan untuk satu tahun penuh.
Sebaliknya, saham Lululemon Athletica anjlok lebih dari 18%. Tekanan tajam ini dipicu oleh realisasi penjualan dan laba kuartal II yang lebih rendah dari proyeksi, disertai dengan penyampaian target kinerja kuartal berjalan yang mengecewakan.
Pada sesi perdagangan reguler Kamis, tiga indeks utama bursa AS ditutup menguat untuk hari kedua berturut-turut. Indeks Dow Jones tercatat naik 1,18%, S&P 500 bertambah 1,06%, dan Nasdaq Composite memimpin penguatan sebesar 1,4%.
Kenaikan indeks saham AS tersebut berlangsung seiring melandainya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Penurunan imbal hasil terjadi menyusul sinyal kebijakan dari Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller.
"Kenaikan suku bunga tidak akan dibenarkan jika inflasi inti terus mereda," kata Waller.
Pernyataan tersebut direspons positif oleh pasar karena menenangkan kekhawatiran para pelaku ekonomi terkait potensi pengetatan moneter secara berlebihan.(*)
Related News
Pernyataan Waller Dongkrak Harga Emas, Dolar AS Loyo
BI Naikkan Insentif KLM Jadi 6 Persen Demi Genjot Kredit
Hormuz Mencekam, Harga Minyak Dekati USD96
Protelindo Raih Peringkat Outlook Stabil Fitch Ratings, Ini Artinya
Avrist Perkuat Sinergi 4 Jasa Keuangan Semua Layanan Saling Melengkapi
Ekspor Listrik Hijau ke Singapura Belum Jelas, PNRE jadi Ikut Bingung





