EmitenNews.com - PT Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG masih bergerak terbatas atau sideways sepanjang 2026 seiring belum pulihnya kepercayaan investor asing terhadap pasar domestik.

Sekuritas milik PT Samuel Tumbuh Bersama itu memproyeksikan IHSG berada di level 7.500 pada skenario dasar (base case) tahun ini, lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya yang mencerminkan skenario lebih optimistis.

Head of Research Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi menjelaskan, revisi target tersebut didorong oleh tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan domestik, terutama pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya harga minyak dunia akibat tensi geopolitik.

“Awalnya base case kita targetnya 5 persen earning growth, kita turunin ke 2 persen sebenarnya. Faktornya pertama karena rupiah, lalu oil price,” ujar Prasetnya saat ditemui dalam Media Connect di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Dalam skenario dasar tersebut, Samuel Sekuritas menggunakan asumsi nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.500 per dolar AS, dengan proyeksi pertumbuhan laba emiten sebesar 2 persen.

Sementara untuk skenario bearish, IHSG diproyeksikan turun menuju level 6.300 apabila rupiah melemah di atas Rp18.000 per dolar AS dan harga minyak melonjak melampaui USD120 per barel. Sebaliknya, pada skenario optimistis atau bullish, IHSG berpotensi menyentuh level 8.000 apabila rupiah mampu menguat ke bawah Rp17.000 per dolar AS dan tekanan global mulai mereda.

Menurut Prasetya, hingga saat ini pergerakan IHSG belum mencerminkan pemulihan yang solid karena masih tingginya tekanan jual dan minimnya aliran dana asing ke pasar domestik.

“Trennya masih sideways, kena naik terus turun. Tapi so far, sih, untuk naik kelihatannya masih belum, ya,” ujarnya.

Ia menambahkan, pasar modal Indonesia saat ini juga masih menghadapi tantangan dari sisi penilaian indeks global MSCI. Investor asing disebut masih menunggu transparansi lebih lanjut terkait struktur kepemilikan emiten di Indonesia.

“Sebenarnya mereka (MSCI) ingin tahu sebenarnya siapa di balik ini, semuanya gitu. Jadi mungkin harapannya kan dengan membuka kategori investor dari awalnya 9 jadi 39 itu bisa membalikkan kepercayaan,” tutupnya.