IHSG Konsolidatif, Serok Saham BBTN, ASII, RAJA, dan MIDI
:
0
Suasana main hall Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 0,235 persen menjadi 7.541. IHSG cenderung bergerak mixed di tengah sentimen variatif. Secara teknikal, IHSG belum mampu menembus MA5 di kisaran 7.591. Itu seiring pergerakan histogram positif pada MACD terus mengecil, dan indikator stochastic RSI berada pada overbought area.
Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi konsolidasi pada rentang level 7.500-7.600 pada perdagangan hari ini, Kamis, 23 April 2026. Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate pada level 4,75 persen dengan deposit facility rate tetap 3,75 persen, dan lending facility rate tetap 5,5 persen.
Keputusan itu, masih konsisten untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah cenderung melemah akibat ketidakpastian global masih tinggi. BI memperkirakan inflasi tetap berada dalam kisaran target 2026–2027 sebesar 2,5 persen ±1 persen. BI juga mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi 4,9–5,7 persen tahun 2026.
Tingkat pertumbuhan kredit tercatat 9,49 persen YoY di Maret 2026 dari Februari 2026 di level 9,37 persen. Itu didorong pertumbuhan pinjaman investasi 20,85 persen, pinjaman modal kerja 4,38 persen, dan kredit konsumen 5,88 persen. Nah, dari sisi permintaan, bank memegang fasilitas pinjaman belum dicairkan Rp2.527,46 triliun, setara 22,59 persen dari total batas kredit tersedia.
BI memperkirakan pertumbuhan kredit akan tetap stabil dalam kisaran 8–12 persen pada 2026. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para invesstor untuk mengoleksi sejumlah saham potensial berikut. Yaitu, Bank BTN (BBTN), Panin Finanial (PNLF), Alfamidi (MIDI), Astra (ASII), dan Rukun Raharja (RAJA). (*)
Related News
Pemerintah Akan Jadi Pengadopsi Awal Kendaraan Listrik Nasional
Volatil, IHSG Dibuka Menguat Usai Tiga Hari Koreksi
Ikuti Wall Street, IHSG Potensial Rebound
IHSG Koreksi Wajar, Bakal Uji Level 7.591
Sinergi BTN-RSUP Fatmawati Langkah Nyata Menuju Layanan Modern Terpadu
Empat Big Bank Indonesia Dapat Outlook Negatif dari Fitch Ratings





