EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di zona merah hingga penutupan sesi I perdagangan Senin (6/4/2026). Indeks terkoreksi 55,777 poin atau 0,79 persen ke level 6.971,005, tekanan pasar masih belum mereda sejak pembukaan.

Sepanjang sesi, aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai. Total volume transaksi mencapai 17,75 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp8,48 triliun. Sebanyak 425 saham tercatat melemah, sementara 239 saham menguat dan 149 sisanya stagnan.

Pelemahan IHSG tidak lepas dari sentimen global, terutama meningkatnya tensi geopolitik setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Iran. Sentimen tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar dan mendorong aksi jual, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Melihat sisi sektoral, pergerakan indeks cukup variatif. Sektor cyclical memimpin penguatan dengan naik 1,61 persen, diikuti sektor industri 1,43 persen, energi 0,51 persen, dan basic materials 0,02 persen. Sebaliknya, sektor infrastruktur mencatat pelemahan terdalam sebesar 1,32 persen, disusul transportasi 1,37 persen, non-cyclical 1,40 persen, keuangan 0,72 persen, kesehatan 0,73 persen, teknologi 0,79 persen, dan properti 0,29 persen.

Sejumlah saham masih mampu berakselerasi seperti PT Impack Pratama Industri Tbk. (IMPC) memimpin penguatan dengan naik 6,25 persen ke Rp2.380, diikuti PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang menguat 6,14 persen ke Rp242, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) naik 2,98 persen ke Rp4.840.

Sementara itu, tekanan terbesar datang dari saham-saham top. PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) milik Prajogo Pangestu menjadi laggard utama setelah anjlok 11,04 persen ke Rp4.270. Disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dari grup Sinar Mas turun 8,35 persen ke Rp64.500, serta PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) melemah 1,52 persen ke Rp6.475.