EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir tahun lalu menguat 0,03 persen menjadi 8.646. Indeks cenderung berada di teritori negatif karena koreksi saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Alamtri Resources (ADRO) masuk ex date dividend. 

Selain itu, koreksi harga emas setelah mencapai rekor tertinggi baru juga mendorong pelemahan. Rupiah menguat menadi Rp16.771 per dolar Amerika Serikat (USD). Itu seiring penguatan mayoritas mata uang Asia. Sepanjang 2025, indeks menanjak 22,13 persen. Semua sektor naik dengan penguatan terbesar sektor teknologi. 

Indikator Stochastic RSI indeks mengindikasikan reversal berlanjut menuju area pivot. Penyempitan histogram negatif MACD juga berlanjut, mengindikasikan tekanan jual mulai melambat, dan ada potensi pembalikan tren ke atas. Indeks berhasil ditutup di atas level MA5, dan MA20. So, penguatan indeks ditaksir berlanjut, dan menguji 8.680-8.725. 

Investor menanti sejumlah data ekonomi domestik. Indeks S&P Global Manufacturing PMI Desember diprediksi sedikit membaik pada level 53.6 dari November 2025 di kisaran 53.3. Neraca perdagangan November 2025 diramal membukukan surplus USD2,7 miliar dari Oktober 2025 surplus USD2,4 miliar. 

Data inflasi Desember 2025 diestimasi melambat menjadi 2,5 persen YoY dari edisi November 2025 di level 2,72 persen YoY. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menjagokan saham Bank BCA (BBCA), Pantai Indah Kapuk (PANI), Bank BNI (BBNI), Jasa Marga (JSMR), dan Astra (ASII), sebagai bahan koleksi. (*)