IHSG Rapuh, IPOT Sarankan Fokus Trading Saham Nikel dan CPO
:
0
Main Hall Arena Bursa Efek Indonesia (BEI).
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki fase downtrend jangka menengah seiring pelemahan dalam tiga bulan berturut-turut. Di tengah kondisi ini, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) merekomendasikan investor untuk trading saham dengan fokus pada emiten berbasis komoditas nikel dan CPO alias sawit.
Sepanjang sepekan terakhir 27-30 April 2026, IHSG ditutup di level 6.956,80 atau melemah 2,52 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih atau outflow sebesar Rp5,8 triliun di pasar reguler.
Koreksi pada akhir April 2026 ini tecermin penurunan 19,55 persen secara year to date dibandingkan penutupan akhir 2025 di level 8.646,93.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan dalam risetnya dikutip Selasa (5/5) menyebut, “Penurunan ini bukan sekadar koreksi teknikal biasa ini adalah tekanan sistemik yang berlangsung konsisten. Bulan April 2026 ditutup dengan penurunan -1,30%.”
Pelemahan IHSG dipengaruhi sejumlah sentimen global dan domestik. Dari global, sikap Bank Sentral AS (The Fed) yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama menjadi pemicu utama aksi jual aset di pasar negara berkembang. Selain itu, eskalasi geopolitik Timur Tengah, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz, mendorong volatilitas harga energi dunia dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Dari domestik, tekanan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS akibat sentimen eksternal memicu aksi jual lanjutan oleh investor asing. Total net sell pasar reguler sepanjang 2026 tercatat mencapai Rp45,382 triliun sebagai upaya membatasi kerugian kurs.
Untuk sepekan ke depan 4-8 Mei 2026, David memproyeksikan pasar bergerak dalam kondisi risk-off moderat yang didominasi tekanan eksternal. Eskalasi ketegangan di Selat Hormuz menjaga harga minyak dunia tetap tinggi dan secara fundamental menekan biaya produksi negara net importir energi, sehingga berisiko memicu inflasi serta menggerus daya beli.
Di tengah situasi tersebut, sektor konsumsi dan transportasi menghadapi risiko penurunan signifikan akibat lonjakan harga energi.
Sementara komoditas nikel dan CPO diprediksi tetap bertengger di klasemen atas ketahanan kuat berkat keterbatasan pasokan global dan dukungan kebijakan domestik.
Secara teknikal, IHSG berada dalam fase downtrend jangka menengah dan berisiko menguji area support di level 6.918 hingga 6.696. Investor disarankan bersikap lebih defensif dengan fokus pada emiten berbasis komoditas seperti nikel dan CPO yang memiliki ketahanan fundamental lebih kuat dibanding sektor konsumsi atau transportasi.
Related News
Konflik Memanas, Laju IHSG Tersendat
IHSG Konsolidatif, Jala Saham INDF, AMRT, MAPI, PGEO, dan JPFA
Perlahan Bangkit, Indeks Bakal Uji 7.119-7.224
Sempat Anjlok, IHSG Berhasil Bangkit di Akhir Perdagangan
IHSG Sesi Siang (4/5) Konsisten Naik 0,17 Persen ke 6.968
KISI Challenge: Step Higher Dimulai, Ajang Trading Paling Sultan





