IHSG Sepekan Naik 1,32 Persen, Saham AISA Paling Aktif dan Banyak Dibeli Investor Asing
EmitenNews – Indeks harga saham gabungan (IHSG) menipis 2,819 poin (0,043 persen) ke level 6.591,582 pada penutupan perdagangan hari ini (15/02). Meski begitu, sepanjang pekan jelang libur tahun baru Imlek ini IHSG menguat 1,32 persen. Volume saham ditransaksikan pada perdagangan hari ini sebanyak 11,326 miliar saham dengan frekuensi mencapai 322.227 kali dan senilai Rp7,370 triliun. Nilai kapitalisasi pasar saham ditutup sebesar Rp7.332 triliun. Pada perdagangan akhir pekan ini investor asing masih aksi jual dengan penjualan bersih (foreign net sell) sebesar Rp252,905 miliar. Secara kumulatif sepanjang pekan empat hari perdagangan ini investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp1,582 triliun. Khusus pada perdagangan hari ini, saham-saham paling banyak dibeli investor asing antara lain; PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) sebanyak 12.798.300 saham dan PT Timah Tbk (TINS) sebanyak 10.385.400 saham. Kemudian di PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) sebanyak 10.086.600 saham, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sebanyak 9.917.282 saham, dan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) sebanyak 9.764.600 saham. AISA juga menempat daftar tertinggi saham paling aktif diperdagangkan hari ini sebanyak 15.758 kali dan senilai Rp198,627 miliar. PGAS di posisi kedua sebanyak 11.844 kali dan senilai Rp425,949 miliar. Diikuti kemudian saham PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) sebanyak 11.265 kali dan senilai Rp185,268 miliar, saham PT MNC Investama Tbk (BHIT) sebanyak 9.762 kali dan senilai Rp6,732 miliar, serta saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR) sebanyak 8.779 kali dan senilai Rp37,671 miliar.
Related News
Black Week: Titik Balik Integritas vs. Krisis Kepercayaan pada Bursa
Apakah Lonjakan Laba EMTK Cerminan Fundamental atau Anomali?
Divergensi Valuasi COIN, Mengapa Pasar Menilai Berbeda dari Proyeksi?
Transformasi AZKO dan NEKA dalam Mengonversi Valuasi ACES di 2026
Perisai Astra vs. Badai MSCI, Masihkah Risiko Likuiditas HEAL Relevan?
Hilirisasi AMMN Transformasi Strategis atau Risiko Sistemik Nyata?





