IHSG Sepekan Naik 2,35 Persen, Cermati Proyeksi Gerak Lanjutan
:
0
Potret figura burung terbang di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI).
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan lalu dengan penguatan ke level 7.634 atau naik 2,35 persen. Namun, di balik kenaikan tersebut, investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp2,4 triliun yang didominasi sektor perbankan.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi dalam risetnya Minggu (19/4/2026) menilai pergerakan pasar saat ini masih sangat dipengaruhi sentimen global, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Kalau kita tarik ke faktor global, memang sentimen utamanya masih didorong oleh dinamika geopolitik, khususnya konflik antara AS vs Iran. Situasinya cenderung tidak stabil, bahkan dalam waktu yang sangat dekat kita melihat perubahan narasi yang cepat, sempat ada pernyataan bahwa Selat Hormuz dibuka, tapi kemudian muncul lagi laporan gangguan hingga adanya tembakan terhadap kapal," ucap Imam Gunadi.
Ia menjelaskan bahwa ketidakstabilan di kawasan tersebut, terutama potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen distribusi minyak dunia, telah memicu sensitivitas tinggi di pasar energi global. Kondisi ini turut mendorong harga minyak mentah Indonesia (ICP) melonjak hingga US$102 per barel pada Maret lalu.
Di sisi lain, tekanan pasokan energi dinilai masih akan bertahan seiring terbatasnya cadangan di sejumlah hub utama dunia. Hal ini membuat harga energi berpotensi tetap tinggi secara struktural meskipun terjadi koreksi jangka pendek.
Dampak lanjutan mulai terasa pada ekonomi global. China yang mencatat pertumbuhan 5 persen mulai menghadapi tekanan dari sisi konsumsi domestik dan faktor eksternal, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap permintaan global ke depan.
Memasuki pekan 20–24 April 2026, Imam memproyeksikan pasar masih akan bergerak fluktuatif dengan pengaruh utama dari perkembangan geopolitik.
"Jadi secara keseluruhan, pergerakan IHSG kemungkinan masih akan berada dalam range tersebut, dengan market yang cenderung reaktif terhadap perkembangan eksternal," tandas Imam.
Selain faktor global, pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting, seperti Loan Prime Rate China, data retail sales Amerika Serikat, serta keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia yang diperkirakan tetap di level 4,75 persen.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan sideways dan volatil. Level 7.773 menjadi resistance terdekat, sedangkan 7.308 menjadi support penting.
Merespons kondisi tersebut, IPOT merekomendasikan beberapa saham untuk trading jangka pendek. Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) direkomendasikan buy pada area 1.035–1.045 dengan target 1.105–1.115 dan stop loss di bawah 1.000.
Sementara Astra International Tbk (ASII) disarankan buy pada kisaran 6.350–6.400 dengan target hingga 6.775 dan stop loss di bawah 6.175. Untuk sektor energi, Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga direkomendasikan dengan target 3.450, Entry di Rp3240-3260, dan Stop Loss apabila <3150.
Selain saham, IPOT juga menyoroti peluang pada instrumen ETF seperti Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD) yang dinilai relevan di tengah volatilitas pasar karena menawarkan eksposur pada saham dengan dividen tinggi. (*)
Related News
BIPI Jajaki Divestasi Anak Usaha Bidang Batu Bara
Waduh! Ada Tren Peningkatan Rasio Kredit Bermasalah di Segmen UMKM
Setahun Sedot 55 Miliar Liter Air, Industri AMDK Diminta Jaga Kendali
IHSG Pagi Terkerek 0,46 Persen ke 7.669, Tekanan Rupiah Bayangi Market
Jangan Lewatkan, Ada Green Sukuk Dalam Lelang SBSN Besok
Investor Waswas, IHSG Cenderung Koreksi





