EmitenNews.com - Indeks saham KOSPI Korea Selatan melonjak di atas 6% ke level 7.300 pada Rabu (15/7), dipicu oleh reli sektor teknologi global dan melandainya inflasi Amerika Serikat.

Kenaikan signifikan indeks acuan pasar modal Korea Selatan ini melanjutkan tren positif dari sesi perdagangan sebelumnya. Melandainya data inflasi Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar menjadi katalis utama yang mendorong penguatan ini. Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi pengetatan kebijakan moneter oleh The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat, sehingga meningkatkan selera risiko di pasar ekuitas global.

Menurut data Trading Economics sektor semikonduktor menjadi motor utama penggerak pasar pada perdagangan hari ini. Saham produsen chip raksasa, SK Hynix, mencatatkan lonjakan drastis hingga hampir 12%. Performa impresif ini mengekor kenaikan sahamnya yang terdaftar di bursa AS pada malam sebelumnya, yang didorong oleh pemulihan sektor semikonduktor global serta inisiasi positif dari sejumlah perusahaan broker.

Raksasa teknologi lainnya, Samsung Electronics, juga membukukan penguatan signifikan dengan kenaikan lebih dari 5%. Tidak hanya dua raksasa chip tersebut, lonjakan besar juga dialami oleh SK Square yang meroket hingga 19,1%.

Tren bullish ini turut menjalar ke sektor industri dan otomotif Korea Selatan. Saham Hanwha Aerospace meningkat 5,5%, diikuti oleh produsen baterai LG Energy Solution yang menguat 3,7%. Di sektor otomotif, Kia Corporation mencatat kenaikan 2,5%, sementara Hyundai Motor naik tipis 1,2%.

Sentimen positif di bursa saham ini diperkuat oleh rilis indikator makroekonomi domestik. Kementerian Keuangan Korea Selatan menyatakan bahwa pemulihan ekonomi negara tersebut saat ini semakin menguat. Faktor pendorong utamanya adalah kinerja ekspor yang tetap kokoh serta mulai membaiknya permintaan domestik.

Seiring dengan perkembangan positif tersebut, Pemerintah Korea Selatan secara resmi menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara untuk tahun 2026 menjadi sebesar 3%. Langkah ini semakin menebalkan optimisme investor terhadap prospek pasar keuangan di kawasan Asia.(*)