Indonesia Pacu Manufaktur via BRICS
:
0
The 10th Meeting of BRICS Industry Ministers yang berlangsung di Jaipur, India, pada Kamis, 6 Agustus 2026.( Foto: Kemenperin).
EmitenNews.com - Indonesia memperluas kerja sama industri dengan negara-negara anggota BRICS guna mempercepat transformasi sektor manufaktur nasional. Langkah ini disampaikan dalam The 10th Meeting of BRICS Industry Ministers yang berlangsung di Jaipur, India, pada Kamis, 6 Agustus 2026. Forum tersebut membahas prioritas kerja sama melalui BRICS Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) untuk membangun industri yang inovatif, tangguh, dan berkelanjutan.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan bahwa forum tersebut menjadi wadah strategis untuk memperkuat kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan industri nasional. Melalui kemitraan ini, pemerintah ingin memastikan transformasi industri meningkatkan daya saing serta membuka peluang investasi, inovasi, perdagangan, dan lapangan kerja. Faisol menyampaikan hal tersebut dalam keterangan resminya di Jakarta pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Sektor manufaktur memegang peranan krusial bagi perekonomian Indonesia. Pada triwulan pertama tahun ini, manufaktur menyumbang lebih dari 19 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, dan menyumbang lebih dari 82 persen dari total nilai ekspor Indonesia.
Pertemuan di India tersebut berfokus pada empat bidang prioritas, yakni pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), startup, logistik industri, serta industri panel surya. Di sektor UMKM, Industri Kecil dan Menengah (IKM) mencakup 99,8 persen unit usaha industri di Indonesia, menyerap 65 persen tenaga kerja industri, serta menyumbang lebih dari 21 persen nilai tambah manufaktur nonmigas.
Untuk mendorong ekosistem inovasi, Kementerian Perindustrian memanfaatkan program Startup4Industry yang telah menghubungkan lebih dari 2.500 startup dengan pelaku industri di bidang kecerdasan artifisial, manufaktur cerdas, robotika, teknologi hijau, dan semikonduktor. Pengalaman ini dijadikan modal untuk mendukung pengembangan BRICS Incubator Network dan BRICS Startup Knowledge Hub.
Di bidang logistik, Indonesia memperkenalkan pemanfaatan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) untuk mengintegrasikan data industri dan memperlancar arus logistik. Selain itu, Indonesia memaparkan pengembangan industri panel surya sebagai upaya transisi menuju industri rendah karbon.
Faisol menambahkan bahwa Indonesia juga membuka peluang kolaborasi pada sektor strategis lain seperti industri hijau, semikonduktor, dan industri agro. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi manufaktur Indonesia dalam rantai nilai global.(*).
Related News
Harga Rumah Mewah Naik, Rumah Tipe Kecil Melambat
Ini Sebab Banyak Pelaku Usaha Tahan Ekspansi Meski Suku Bunga Turun
SpaceX Melesat 16%, Terbangkan S&P 500 ke Rekor Tertinggi
Minyak Dunia Anjlok 7 Persen Sepekan Akibat Hormuz
Cadangan Devisa RI Stabil USD145,3 Miliar Usai Terbit Bond
Siapkan Rp250 Miliar, Hutama Karya Pastikan Lunasi Obligasi dan Sukuk





