EmitenNews.com - Pasar saham kerap disalahpahami sebagai arena spekulasi yang tidak jauh berbeda dengan kasino. Naik-turun harga saham yang tajam, cerita untung besar dalam waktu singkat, hingga kisah kerugian mendadak membuat persepsi itu terus hidup di benak publik.

Padahal, secara prinsip dan fungsi, pasar saham dibangun bukan sebagai tempat berjudi, melainkan sebagai mekanisme penghimpunan dana jangka panjang berbasis pada kinerja dan prospek bisnis. Ironisnya, di tengah struktur pasar yang semakin matang dan informasi semakin terbuka, perilaku sebagian investor justru masih menyerupai penjudi yang mengandalkan keberuntungan semata.

Hakikat Pasar Saham: Instrumen Investasi, Bukan Permainan Untung-untungan

Secara fundamental, pasar saham adalah sarana mempertemukan pihak yang membutuhkan modal dengan pihak yang memiliki dana. Investor membeli saham karena meyakini nilai intrinsik perusahaan akan bertumbuh seiring waktu, didukung oleh kinerja keuangan, tata kelola yang baik, dan prospek industri yang menjanjikan. Dalam kerangka ini, keuntungan investor berasal dari pertumbuhan nilai perusahaan, bukan dari tebakan acak atas pergerakan harga harian.

Berbeda dengan kasino, peluang dirancang agar selalu menguntungkan penyelenggara, pasar saham tidak memiliki “bandar” yang secara sistematis mengambil keuntungan dari kekalahan investor. Risiko memang ada, tetapi bersifat ekonomi dan dapat dianalisis. Informasi laporan keuangan, keterbukaan emiten, hingga regulasi pasar modal memberikan landasan rasional bagi pengambilan keputusan investasi.

Ketika Investor Berubah Menjadi Spekulan

Masalah muncul ketika pendekatan rasional ini ditinggalkan. Banyak investor ritel masuk ke pasar saham tanpa pemahaman memadai tentang valuasi, risiko, dan tujuan investasi. Keputusan beli dan jual lebih sering didorong oleh rumor, rekomendasi singkat di media sosial, atau sekadar rasa takut ketinggalan momentum fear of missing out (FOMO). Dalam kondisi ini, pasar saham memang terasa seperti kasino penuh emosi, adrenalin, dan keputusan spontan.

Fenomena ini semakin menguat seiring kemudahan akses teknologi. Aplikasi perdagangan saham yang cepat dan murah memang memperluas inklusi keuangan, tetapi di sisi lain mendorong perilaku transaksi jangka sangat pendek tanpa perencanaan. Saham diperlakukan layaknya chip perjudian dibeli ketika euforia memuncak dan dilepas saat panik melanda.

Volatilitas Bukan Musuh, Ketidaksiapanlah Masalahnya

Volatilitas harga sering dijadikan alasan untuk menyamakan pasar saham dengan kasino. Padahal, fluktuasi adalah konsekuensi wajar dari dinamika ekonomi, ekspektasi pelaku pasar, dan aliran informasi. Volatilitas menjadi masalah hanya ketika investor tidak siap secara pengetahuan dan psikologis.

Investor yang memahami bisnis perusahaan akan melihat penurunan harga sebagai sinyal untuk menilai ulang fundamental, bukan sebagai ancaman eksistensial. Sebaliknya, investor yang hanya mengandalkan pergerakan harga jangka pendek akan mudah panik dan bereaksi berlebihan. Di titik inilah perilaku bertaruh muncul, bukan karena pasar saham itu sendiri, melainkan karena pendekatan yang keliru.

Literasi Keuangan yang Belum Sejalan dengan Pertumbuhan Investor

Pertumbuhan jumlah investor di Indonesia saat ini melonjak tajam menjadi 20 juta investor, hal ini patut diapresiasi. Namun, peningkatan kuantitas belum sepenuhnya diimbangi dengan kualitas pemahaman. Literasi keuangan, khususnya terkait investasi saham, masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Banyak investor baru belum membedakan antara investasi dan spekulasi. Investasi menuntut analisis, kesabaran, dan disiplin. Spekulasi cenderung mengandalkan momentum jangka pendek dengan risiko tinggi. Ketika ekspektasi keuntungan instan lebih dominan daripada tujuan keuangan jangka panjang, pasar saham secara tidak sadar diperlakukan sebagai arena taruhan.

Peran Media dan Influencer Pasar Modal

Media dan public figur (influencer) berpengaruh di dunia pasar modal juga memiliki peran signifikan dalam membentuk persepsi. Narasi tentang saham yang “bisa naik berlipat dalam hitungan hari” sering kali lebih menarik perhatian dibandingkan pembahasan fundamental yang mendalam. Tanpa disertai konteks risiko, narasi semacam ini mendorong ekspektasi yang tidak realistis.

Akibatnya, investor pemula masuk pasar dengan orientasi yang salah sejak awal. Ketika realitas tidak sesuai harapan, kekecewaan pun muncul dan memperkuat anggapan bahwa pasar saham hanyalah permainan untung-untungan. Padahal, masalah utamanya terletak pada cara pandang dan sumber informasi yang digunakan.