Integrasi Sustainability dan AI Jadi Kunci Ketahanan Bisnis Perusahaan
:
0
TOP GRC Awards 2026 Dorong Penguatan GRC Maturity Index
EmitenNews.com -Tata kelola perusahaan (governance), manajemen risiko (risk), dan kepatuhan (compliance) atau GRC kini tidak lagi sekadar fungsi kepatuhan administratif semata. Para pelaku industri dan pakar menegaskan pentingnya Sustainability by Design dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai fondasi utama strategi bisnis untuk menciptakan nilai perusahaan yang berkelanjutan (sustainable value).
Integrasi keberlanjutan dan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) perlu dirancang sejak awal ke dalam DNA bisnis inti, bukan sekadar pelengkap regulasi.
Ketua Umum Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG), Mardiasmo, menyampaikan bahwa evolusi pedoman Good Corporate Governance (GCG) menuntut penguatan tata kelola yang tercermin dalam perilaku etis, kualitas keputusan, dan perlindungan pemangku kepentingan.
“Sinergi tiga standar global utama—ISO 37000 untuk arah governansi berbasis tujuan, ISO 31000 sebagai radar manajemen risiko, dan ISO 37301 untuk budaya kepatuhan—sangat krusial untuk meruntuhkan batasan silo antar departemen,” ujar Mardiasmo.
Ia menambahkan, pemutakhiran tata kelola saat ini juga mencakup aspek strategis seperti etika pemanfaatan AI, kewajiban pengungkapan isu keberlanjutan, hingga integrasi ESG ke dalam skema remunerasi jajaran direksi dan komisaris.
Transformasi Intelligent GRC dan Continuous Assurance
Di tengah risiko digital yang bergerak dinamis, perusahaan didesak meninggalkan pola pengawasan pasif atau yang hanya aktif menjelang proses audit semata. Konsep Intelligent GRC hadir untuk mendorong pemanfaatan data, analitik, dan AI guna mempercepat deteksi risiko serta membantu pengambilan keputusan strategis yang lebih presisi.
Ketua Dewan Juri Praktik GRC, Antonius Alijoyo, menekankan bahwa Intelligent GRC bukan sekadar digitalisasi dokumen. "Konsep ini mengarah pada pemanfaatan teknologi untuk memperkuat efektivitas kontrol, membantu manajemen mengambil keputusan lebih cepat, akurat, beretika, dan menciptakan nilai jangka panjang," jelasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Managing Director Risk & Sustainability BPI Danantara, Effendi Hengki, menyebut GRC harus bertransformasi menjadi strategic enabler.
“Perusahaan perlu bergeser menuju continuous assurance melalui pengawasan berbasis data real-time dan otomatisasi. Fungsi GRC harus bergerak dari sekadar memeriksa kejadian masa lalu menjadi mitra strategis yang mendeteksi risiko lebih dini,” kata Effendi.
Related News
Terbukti Korupsi, 3 Eks Pejabat Inalum Divonis 7 Tahun, Denda Rp500M
Harga Minyak Dunia USD108, Menteri Bahlil Pastikan BBM Subsidi Tetap
Langkah Nyata CBI Group dan SSMS Ringankan Beban Tim Gabungan Karhutla
BSN Serbu Bandung, Layanan Digital Masuk Merchant
Sasar Nasabah Premium, BSN Hadirkan BSN Prioritas Blessed Prosperity
Pidatonya Sering Blunder, Prabowo Bilang Kalau Salah Ya, Maaf!





