IPO JELI, Menakar Risiko di Balik Manisnya INACO yang Mendunia
:
0
IPO JELI, Menakar Risiko di Balik Manisnya INACO yang Mendunia. Dok. emitennews/Ida Farida
EmitenNews.com - Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, merek "INACO" sudah sangat lekat di telinga. Produk nata de coco dan jeli ini adalah pemain lama yang mudah ditemukan di berbagai rak swalayan. Kini, produsennya, PT Niramas Utama Tbk, bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham JELI.
Melalui penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) ini, perseroan menawarkan hingga 350 juta lembar saham baru di rentang harga Rp900 hingga Rp1.120 per lembar. Targetnya, mereka bisa meraup dana segar maksimal Rp392 miliar.
Namun, di pasar modal, menyukai produknya tidak sama dengan objektivitas dalam menilai sahamnya. Dengan menggunakan pendekatan analisis fundamental (first principles thinking), mari kita bedah prospektus JELI untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik layar keuangan dan operasional perusahaan ini dan motivasi perusahaan go public.
Omzet Menyusut, Laba Justru Mengembang
Hal pertama yang paling menarik untuk dibedah dari laporan keuangan JELI dalam tiga tahun terakhir (2023–2025) adalah arah grafiknya yang saling bertolak belakang.
Pendapatan atau uang masuk dari hasil jualan (top-line) mereka secara konsisten terus terkontraksi. Dari Rp838,9 miliar di 2023, turun ke Rp788,4 miliar (2024), dan menyusut lagi ke Rp753 miliar (2025).
Anehnya, Laba Bersih atau keuntungan sisa yang masuk ke kantong perusahaan (bottom-line) justru mengalami ekspansi yang masif. Dari hanya Rp1,6 miliar di 2023, lompat ke Rp11,6 miliar di 2024, dan mencapai Rp39 miliar di 2025. Bagaimana mungkin jualan makin menurun, tapi keuntungannya makin besar?
Manajemen menjelaskan bahwa mereka sengaja memangkas volume penjualan untuk produk-produk yang untungnya tipis (less profitable products). Di saat yang sama, harga pasar bahan baku utama sedang turun, efisiensi biaya di pabrik berjalan baik, dan mereka juga menaikkan harga jual di akhir 2024.
Strategi efisiensi ini patut diapresiasi karena berhasil menebalkan margin (selisih antara modal produksi dan harga jual). Namun, investor harus tetap kritis: laba yang tumbuh murni karena "pemotongan produk" dan efisiensi memiliki batas maksimal (ceiling). Perusahaan yang sehat idealnya mencetak pertumbuhan laba yang diiringi dengan peningkatan volume penjualan riil di pasaran.
Analisis Pasar & Keunggulan Kompetitif INACO di 6 Benua
Related News
Teka-Teki PWON Terjawab, Dividen Bukti Paripurna Status Raja Mal
Bursa Kaki Emas, Valuasi Megabintang Piala Dunia bak Saham Blue Chip
Laba Tambang Batu Bara Redup, DSSA Tancap Gas Jadi Juragan Internet
Transformasi PANI dari Pabrik Kaleng jadi Raksasa Properti
Fakta Mengejutkan di Balik Pesta Dividen Rp5 Triliun ANTAM
Ketika Jagoan Camilan Dunia (MYOR) Melawan Badai Harga Bahan Baku





