EmitenNews.com - Momen Lebaran identik dengan cairnya Tunjangan Hari Raya (THR). Namun, bagi banyak orang, euforia tersebut seringkali hanya berlangsung singkat. Pasalnya, saldo rekening kembali menipis setelah periode liburan usai.

Fenomena tersebut tidak hanya soal pengeluaran musiman, tetapi juga soal bagaimana masyarakat mengelola uang tambahan tersebut. Tanpa strategi tepat, dana THR berisiko habis untuk konsumsi jangka pendek tanpa memberi dampak finansial jangka panjang.

Chief Marketing Officer PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Sergio Ticoalu, mengatakan periode THR seharusnya menjadi momentum untuk mulai berpikir seperti smart money, yaitu menggunakan uang secara lebih strategis, bukan sekadar mengikuti dorongan konsumsi sesaat.

“Momentum THR sebenarnya adalah kesempatan bagus untuk mulai berpikir seperti smart money. Artinya bukan sekadar membelanjakan uang, tapi mengalokasikannya dengan lebih strategis agar sebagian tetap bisa tumbuh dan bekerja untuk masa depan,” ujar Sergio.

Menurutnya, pola pikir ini penting agar dana THR tidak hanya lewat begitu saja di rekening, tetapi dapat menjadi langkah awal membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat. So, IPOT membagikan empat strategi sederhana agar dana THR dapat dikelola secara lebih produktif.

Pertama, Prioritaskan “Security” dengan Dana Darurat. Langkah pertama itu, memastikan kondisi finansial tetap aman. Salah satu cara dapat dilakukan dengan mengalokasikan sebagian THR untuk memperkuat dana darurat. “Minimal 20–30 persen THR bisa dialokasikan sebagai dana cadangan. Ini penting agar kondisi finansial tetap stabil sepanjang tahun,” jelas Sergio.

Dengan adanya dana darurat, masyarakat dapat menghadapi kebutuhan tak terduga tanpa harus berutang atau mengganggu rencana keuangan lainnya. Kedua, Gunakan Sisa THR untuk Investasi dengan Conviction. Setelah kebutuhan Lebaran terpenuhi, sisa THR dapat dimanfaatkan sebagai tambahan modal investasi. Sergio menekankan pentingnya melakukan investasi dengan dasar analisis dan keyakinan, bukan sekadar mengikuti tren atau FOMO.

“Investor sehat adalah mereka yang punya conviction terhadap keputusan investasinya. Jadi bukan sekadar ikut ramai, tapi memahami kenapa mereka memilih instrumen tersebut,” katanya. Ketiga, Bangun Confidence Lewat Literasi Finansial. Mengelola uang dengan baik tidak hanya bergantung pada besar kecilnya pendapatan, tetapi juga pada tingkat literasi finansial.

Dengan pemahaman baik tentang investasi dan pengelolaan keuangan, seseorang dapat mengambil keputusan yang lebih rasional dan terukur. “Confidence dalam berinvestasi datang dari pemahaman. Makin kita mengerti cara kerja pasar, dan instrumen investasi, makin baik pula keputusan bisa kita ambil,” tambah Sergio.

Terakhir, Parkirkan Dana Produktif di xRDN IPOT. Salah satu cara agar dana tidak cepat habis adalah dengan menempatkannya pada rekening dana nasabah (xRDN) tetap memberikan potensi imbal hasil. Pada aplikasi IPOT, saldo tersimpan di xRDN tetap dapat memberi potensi imbal hasil 2 persen, lebih tinggi dibanding bunga tabungan konvensional 0,02–0,2 persen per tahun, namun tetap memiliki likuiditas tinggi.

Dengan cara tersebut, dana tetap produktif sekaligus membantu mengurangi dorongan belanja impulsif.“Konsep smart money bukan berarti menahan diri dari menikmati momen Lebaran, tetapi memastikan sebagian uang tetap bekerja untuk kita setelah liburan selesai,” tutup Sergio. (*)