Isu Keamanan AI dan Bunga Fed Pukul Bursa Saham AS
:
0
Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada hari Senin di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan pengembangan AI. (Foto Ilustrasi: Magnific)
EmitenNews.com - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada hari Senin di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan pengembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Selain isu teknologi, perhatian investor juga tertuju pada pertemuan kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Sentimen negatif di sektor teknologi dipicu oleh pernyataan dari para pimpinan perusahaan AI terkemuka. CEO Anthropic, Dario Amodei, menyatakan pada hari Sabtu bahwa perusahaan AI perlu memperlambat laju pengembangan model tercanggih demi meminimalkan risiko keamanan, sembari berjanji menerapkan pengamanan tambahan di internal perusahaannya.
Di saat yang sama, CEO OpenAI, Sam Altman, sebagaimana dilaporkan Trading Economics, menegaskan langkah korporasinya terkait kepemilikan saham.
"Pengembang ChatGPT tidak berencana untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) tahun ini," ujar Sam Altman.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar memperhitungkan probabilitas sebesar 86 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan pada hari Rabu. Tekanan inflasi kian meningkat menyusul lonjakan harga energi global. Kenaikan harga minyak berlanjut pada hari Senin setelah Arab Saudi menangguhkan operasi jalur pipa utamanya yang berfungsi menghindari Selat Hormuz akibat serangan pesawat tak berawak (drone).
Lonjakan harga energi tersebut telah membebani indeks utama bursa AS sejak pekan lalu. Indeks Dow Jones tercatat merosot 1,57 persen, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,8 persen dan 0,66 persen.
Dinamika pasar keuangan AS dan ketidakpastian pengembangan AI ini perlu menjadi kewaspadaan bagi pasar modal Indonesia. Pengetatan suku bunga The Fed yang dipicu inflasi energi berpotensi memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik, yang berisiko menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.(*)
Related News
Dugaan Emas 2,2 Kg Hilang, BJB Syariah Sebut Gadai Lunas Sejak 2013
Ekspor Industri Pengolahan Naik 8,93%, Sangga Neraca Dagang RI
Melandai, Inflasi Bulanan Oktober 2026 Tercatat 0,22 Persen
Harga Emas Rebound ke USD3.900, Antam Naik Rp5.000
Saham Teknologi Jepang Ikut Terseret Penurunan Intel
Manufaktur RI Capai Rekor Tertinggi, Minim Atasi Pengangguran





