EmitenNews.com - Bank Indonesia memperkuat pengawasan lalu lintas devisa. BI juga akan memperkuat kecukupan likuiditas melalui operasi moneter untuk surat berharga non-SBN.

Demikian salah satu strategi BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tantangan penguatan dolar AS.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan dari segi moneter, penguatan kebijakan moneter akan terus dilakukan secara konsisten melalui sejumlah pilar kebijakan.

“Kami akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa, kemudian terus memperkuat kecukupan likuiditas melalui repo operasi moneter untuk non-SBN,” kata Destry Damayanti dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (27/9/2026).

Bank sentral telah mulai membuka fasilitas repo untuk surat berharga non-SBN, yang saat ini telah diterapkan pada surat berharga PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).

Kemudian, mulai Oktober 2026, fasilitas itu akan diperluas untuk obligasi PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Dalam penjelasannya diketahui surat berharga yang diterbitkan SMF dan SMI dapat direpokan kepada BI sehingga diharapkan turut memperdalam pasar uang bagi kedua instrumen tersebut.

BI menerapkan langkah tersebut di tengah tantangan eksternal berupa penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia. Kondisi tersebut dipicu oleh tren suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat alias The Fed.

Kita tahu, The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen pada 16 September 2026 waktu AS. BI memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya sekali lagi pada triwulan IV 2026.

Kenaikan suku bunga The Fed turut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya. Ini tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang tercatat mencapai 101,11, sedangkan indeks dolar terhadap mata uang negara Asia mencapai 96,26.