Kala IHSG Tersudut, Saham Asuransi Umum ini Menjadi Buruan Investor
:
0
Gedung Asuransi Tugu tampak berdiri kukuh di kawasan Kuningan, Jakarta. Foto - Dok TUGU
EmitenNews.com - Perdagangan saham Asuransi Tugu Pratama Indonesia (TUGU) menunjukkan dinamika berbeda ketika tekanan jual melanda Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 16 Oktober 2026 menyusul pengumuman MSCI. Di tengah sentimen negatif pasar, nilai transaksi TUGU justru menembus Rp31 miliar.
Angka tersebut setara sekitar 10 kali rata-rata nilai transaksi harian dalam kondisi normal. Aktivitas perdagangan meningkat juga disertai pembelian bersih investor asing Rp3,2 miliar. Perbandingannya cukup mencolok. Investor asing secara agregat melakukan penjualan bersih sekitar Rp3,4 triliun di pasar saham domestik.
Selain itu, secara year-to-date, saham anak usaha Pertamina tersebut masih naik 7,3 persen, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah melemah sekitar 40 persen, dan indeks IDXFinance turun sekitar 24 persen. Perbedaan kinerja harga itu menimbulkan pertanyaan mengenai faktor yang menopang minat investor.
Salah satu jawabannya dapat ditelusuri melalui pertumbuhan bisnis, dan profil pembagian keuntungan perusahaan. Sepanjang semester I-2026, TUGU mencatatkan hasil jasa asuransi Rp602,9 miliar, naik 85,6 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Pendapatan usaha lainnya meningkat 24,6 persen menjadi Rp321,3 miliar, sementara laba bersih bertambah 76,8 persen menjadi Rp480,3 miliar.
Selain kinerja laba, TUGU memiliki rekam jejak pembagian dividen. Rasio pembayaran dividen dari laba tahun buku 2025 mencapai 50 persen, menjadi salah satu pertimbangan investor berorientasi arus kas kuat dari portofolio investasi. Dalam kondisi pasar sulit, saham dengan fundamental solid, valuasi relatif menarik, dan potensi dividen dapat menjadi perhatian investor.
“Ketika indeks mengalami tekanan besar, pasar cenderung mencari emiten yang punya dukungan fundamental. Dalam konteks TUGU, pertumbuhan laba serta kebijakan dividen memberi alasan bagi investor untuk mencermati saham ini lebih jauh,” tegas Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis.
Data registrasi pemegang efek memperlihatkan perkembangan lain. Nah, dDri Juni hingga September 2026, kepemilikan investor korporasi naik 3,71 juta saham, penasihat investasi 1,02 juta, perbankan 711 ribu, reksa dana 623 ribu, firma 600 ribu, dan institusi asuransi 253 ribu saham. Di sisi lain, kepemilikan investor individu turun sekitar 5,95 juta saham.
Pergeseran komposisi itu, konsisten dengan meningkatnya porsi investor institusional. Setelah lonjakan aktivitas perdagangan tersebut, perhatian pasar berpeluang bergeser menuju kinerja kuartal III-2026. Angka hasil jasa asuransi, laba, dan kontribusi perpanjangan kontrak akan menjadi bahan evaluasi untuk menilai kesinambungan pertumbuhan.
“Katalis berikutnya tentu laporan kuartal III. Pasar ingin melihat apakah tren positif pada semester pertama dapat dipertahankan, termasuk dari aktivitas renewal. Jika hasilnya solid, daya tarik fundamental TUGU berpotensi makin terlihat,” kata Abdul Azis. (*)
Related News
Dirut Indocement Christian Kartawijaya Mundur, Ini Calon Penggantinya
BIPP Kantongi Restu Private Placement, Saham Anjlok 13,64% Sepekan
Sengketa Gunvor Belum Tuntas, PGAS Kaji Dampak Putusan Arbitrase
OJK Denda Pihak Terkait Saham DSSA Rp1,5T, Begini Respons Emiten
Perkuat Efisiensi, PGAS Implementasi Dekarbonisasi Berkelanjutan
BBCA Lanjutkan Buyback Saham, Eksekusi Periode 19-21 Oktober 2026





