EmitenNews.com - Harga bensin berjangka Amerika Serikat (AS) melonjak sekitar 2 persen menjadi kisaran 3,0 USD per galon pada hari Senin. Kenaikan ini memulihkan penurunan dari sesi sebelumnya, didorong oleh peningkatan ketegangan militer antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran serius atas pasokan bahan bakar global.

Eskalasi terbaru terjadi setelah AS meluncurkan serangan baru terhadap Iran, menyusul gempuran ke 140 target sehari sebelumnya sebagai balasan atas serangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran terhadap kapal kontainer yang melintasi Selat Hormuz.

Iran menanggapi aksi tersebut dengan menargetkan fasilitas militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman. Meskipun Teheran menyatakan bahwa selat tersebut ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut, Komando Pusat AS menegaskan bahwa kapal komersial dapat terus melintasi jalur pelayaran vital tersebut secara sah.

Situasi yang kembali memanas ini memberikan pukulan telak terhadap upaya diplomatik, sekaligus membalikkan optimisme pasar yang sempat dipicu oleh laporan pekan lalu bahwa negosiasi teknis masih berlangsung.

Selain bensin, komoditas energi lainnya juga ikut merangkak naik. Berdasarkan data dari Trading Economics, harga minyak pemanas berjangka AS terpantau melonjak sekitar 3 persen hingga berada di atas 3,65 USD per galon pada hari Senin karena dipicu oleh sentimen permusuhan yang sama di jalur air strategis tersebut.

Kekhawatiran pasar mengenai ketersediaan pasokan kian diperparah oleh gangguan operasional di Rusia. Serangan pesawat tanpa awak (drone) dari Ukraina yang terjadi berulang kali telah menghantam kilang-kilang besar dan memaksa penangguhan operasi. Akibatnya, produksi bensin Rusia merosot hingga menjadi sekitar 65 persen dari konsumsi rata-rata musiman. Pemerintah Rusia bahkan menyatakan akan menangguhkan ekspor diesel dan terpaksa menjadi importir bersih akibat gangguan operasional kilang serta tingginya harga minyak mentah.

Bagi Indonesia, gejolak harga BBM dan minyak global ini patut diwaspadai karena berpotensi memberikan tekanan pada postur APBN, khususnya beban subsidi energi domestik. Sebagai negara importir bersih (net importer) minyak, fluktuasi tajam di pasar internasional serta tersendatnya pasokan kilang global lambat laun dapat memengaruhi pergerakan Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) dan stabilitas harga BBM di dalam negeri.(*)