EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 3 persen hingga melewati angka 73 USD per barel pada perdagangan hari Senin. Kenaikan tajam ini mengakhiri tren penurunan harga selama dua hari berturut-turut, setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan rudal baru sepanjang akhir pekan lalu.

Ketegangan terbaru ini berpusat pada jalur pengiriman vital di Selat Hormuz. AS melakukan serangan keempatnya dalam seminggu terakhir terhadap Iran pada hari Minggu. Tindakan Washington tersebut merupakan balasan atas serangan pihak Iran sebelumnya terhadap sebuah kapal kontainer yang berbendera Siprus.

Merespons situasi tersebut, pihak Teheran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut. Meskipun demikian, klaim penutupan jalur laut internasional itu segera ditolak oleh Komando Pusat AS yang menegaskan bahwa jalur tetap dipantau.

Berdasarkan data dari Trading Economics, lonjakan harga minyak ini memulihkan nilai komoditas tersebut sejak pekan lalu. Permusuhan yang kembali memanas telah membalikkan sebagian kerugian pasar yang sempat dipicu oleh perjanjian perdamaian sementara antara AS dan Iran. Sebelumnya, perjanjian tersebut sempat memicu harapan akan adanya peningkatan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Eskalasi militer terbaru ini kini melemahkan harapan publik global untuk pembaruan diplomasi kedua negara. Pihak Teheran bersikeras bahwa Washington harus terlebih dahulu memenuhi komitmen sebelumnya mengenai transit di Selat Hormuz dan normalisasi ekspor minyak Iran sebelum negosiasi dapat dilanjutkan kembali.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak mentah dunia di atas 73 USD per barel ini berpotensi memberikan tekanan baru pada sektor energi domestik. Sebagai negara importir minyak netral (net oil importer), kenaikan harga komoditas global ini berisiko meningkatkan beban subsidi energi APBN serta berpotensi memengaruhi stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri jika konflik di Timur Tengah terus berkepanjangan.(*)