Tepatnya, seratus tahun kemudian, Cheng Ho datang ke Nusantara saat perpindahan dari Dinasti Yuan ke Dinasti Ming. Pada tahun 1405, Cheng Ho mencatat Raja Mahapahit saat itu, Wikramawardhana. Dia singgah di pelabuhan Tuban, yaitu pelabuhan besar milik Majapahit. Di situ dia menemukan etnis Tionghoa tinggal di sekitar pelabuhan. Mereka semuanya Muslim.


Cheng Ho kemudian singgah di pelabuhan Gresik. Ternyata di Gresik ada 1.000 keluarga Tionghoa yang semuanya Muslim. Kemudian, di Surabaya juga ada seribuan keluarga Tionghoa beragama Islam.


Itu terjadi pada 1405 ketika Cheng Ho pertama kali datang ke Nusantara. Cheng Ho sendiri bolak-balik ke Jawa hingga tujuh kali. Kunjungan terakhirnya pada 1433. Saat itu, Cheng Ho mengajak juru tulis (sekretaris) bernama Ma Huan. Dalam catatan Ma Huan, di kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa dihuni tiga kelompok masyarakat.


Pertama, etnis Tionghoa semua beragama Islam. Kedua, dari Barat, yaitu Arab dan Persia yang juga beragama Islam. Ketiga, pribumi. Masih menurut catatan Ma Huan, semua penduduk pribumi di sepanjang pantai utara Jawa masih belum mengenal agama Islam kala itu. (Sumber: NU Online)