EmitenNews.com - Indonesia dan Jepang sepakat mempercepat pengembangan proyek gas bumi Lapangan Abadi, Blok Masela, Maluku, di tengah konflik perang Timur Tengah, yang dipicu serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyampaikan hal tersebut kepada wartawan, di Jakarta, Senin (30/3/2026).

“Semua pihak sepakat untuk percepatan,” ujar Djoko Siswanto.

Pembahasan progres pengembangan Blok Masela berlangsung dengan baik dan terus menunjukkan kemajuan.

Djoko Siswanto bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut mendampingi lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang guna memperkuat kerja sama strategis kedua negara.

Dalam keterangan Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia sektor energi menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam lawatan tersebut. Kerja sama bidang energi dengan Jepang memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Menteri ESDM memiliki peran untuk memastikan setiap peluang kerja sama di sektor energi dapat diterjemahkan menjadi kesepakatan yang konkret.

Pada Minggu (15/3/2026), Menteri Bahlil bertemu CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda, menjadi momentum penting dalam mendorong percepatan proyek Blok Masela yang memiliki kesepakatan investasi mencapai USD20 miliar (sekitar Rp339 triliun).

Proyek Blok Masela memiliki nilai penggerak ekonomi baru bagi Indonesia Timur, sekaligus sumber pasokan gas besar untuk industri nasional di masa depan.

Bahlil juga mengapresiasi kemajuan pembangunan proyek tersebut yang sudah mencapai sekitar 25 persen.

Dia menegaskan keinginannya agar Proyek Abadi Masela dapat memajukan FEED pada kuartal kedua 2026 atau selambatnya di kuartal ketiga tahun ini agar secara paralel dapat melakukan tender Engineering Procurement Construction (EPC).

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Jepang dan Federasi Mikronesia Nurmala Kartini Sjahrir menyampaikan kesepakatan pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela merupakan tonggak sejarah bagi ketahanan energi nasional.

KBRI Tokyo akan terus melakukan fungsi fasilitasi agar tahap Front-End Engineering and Design (FEED) dapat berjalan tepat waktu pada kuartal III 2026, sehingga dapat mencapai target produksi pada 2029–2030.

Seperti diketahui Presiden Prabowo Subianto menghadiri Forum Bisnis Jepang-Indonesia bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih serta pengusaha asal Indonesia. Dalam forum itu, tercapai 10 kesepakatan bisnis senilai mencapai USD22,6 miliar.

Blok Masela adalah Proyek Strategis Nasional (PSN) berskala jumbo di Maluku yang berfokus pada lapangan gas abadi, yang ditargetkan berproduksi (onstream) pada 2029-2030. Dikelola oleh Inpex Masela Ltd, proyek senilai USD20 miliar ini diharapkan memproduksi 9,3 juta ton LNG/tahun dengan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk emisi bersih. 

Blok Masela terletak di Laut Arafura, sekitar 160 km lepas pantai Pulau Yamdena, Maluku, dengan potensi cadangan gas mencapai 6,97 triliun kaki kubik.

Inpex Masela Ltd (Jepang) bertindak sebagai operator. Komposisi kepemilikan saat ini adalah Inpex (65%), PT Pertamina Hulu Energi Masela (20%), dan Petronas Masela (15%). ***