EmitenNews.com - Industri perhotelan belum sepenuhnya merasakan imbas dari pada lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia. Di tengah kenaikan jumlah turis asing sepanjang kuartal I-2026, tingkat okupansi hotel justru belum menunjukkan perbaikan signifikan, khususnya di Bali. PHRI mengeluh, dan menuding maraknya penginapan liar, atau akomodasi ilegal membuat industri perhotelan kehilangan pangsa pasar.

Seperti diketahui Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisman pada Januari-Maret 2026 mencapai 3,43 juta kunjungan.Terjadi kenaikan 8,62% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2020.

Dalam keterangannya kepada pers, seperti dikutip Kamis (7/5/2026), Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, menilai kenaikan jumlah turis asing memang nyata terjadi, meski belum melampaui capaian 2019, sekitar 16 juta wisman. Namun, dampaknya terhadap industri hotel belum merata di berbagai daerah.

Data yang ada menunjukkan, pergerakan wisman masih terkonsentrasi di beberapa wilayah utama seperti Bali, Jakarta, Kepulauan Riau, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Dari seluruh daerah tersebut, Bali masih menjadi tujuan terbesar wisatawan asing.

Meski begitu, tingginya arus turis asing ke Bali belum otomatis mengerek tingkat hunian hotel. Maraknya akomodasi ilegal menjadi tantangan utama yang kini dihadapi industri perhotelan.

"Yang jadi tantangan di Bali itu peningkatan wisman tidak seiring dengan peningkatan okupansi hotel karena banyaknya akomodasi liar. Mereka berusaha tapi tidak memiliki izin yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan," ujarnya.

PHRI menilai lemahnya pengawasan izin usaha membuat banyak akomodasi nonformal tumbuh tanpa kontrol. Kondisi itu dinilai merugikan hotel resmi sekaligus mengurangi potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Setiap usaha itu harus punya kontribusi terhadap PAD dan serapan tenaga kerja. Kalau ada pembiaran terhadap yang liar-liar itu, ya kontribusinya semakin kecil. Wisman meningkat tapi tidak berkontribusi terhadap PAD," sebutnya.

Tingkat Okupansi Hptel Masih Berada Pada Kisaran 50 Persen

Kondisi tersebut tercermin dari tingkat okupansi hotel yang masih berada di kisaran 50%. Pada kuartal I-2026, rata-rata okupansi hotel di Bali tercatat sekitar 54%, sedangkan pada Maret berada di level sekitar 56%. Kalau dibandingkan tahun lalu memang sedikit lebih tinggi. Tapi belum terlalu signifikan.