EmitenNews.com - Laporan Keuangan Full Year 2025 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), menampilkan insight yang tidak biasa. Penyaluran kredit bank BNI melesat naik secara agresif hingga 15,9%, menembus angka Rp899,53 triliun. Namun ironisnya, laba bersih justru menyusut turun dari Rp21,66 triliun (2024) menjadi Rp20,11 triliun.

Bagi investor yang mungkin terjebak narasi top-line, anomali ini tampak seperti red flag. Logikanya, BBNI berjualan semakin banyak, tetapi untungnya malah berkurang. Namun jika kita menganalisis "mesin utama" dari laporan keuangan auditan terbarunya, realita fundamental yang tersaji justru menawarkan sudut pandang yang jauh lebih mendalam untuk keperluan due diligence investasi. 

Margin Squeeze, Harga Mahal Sebuah Likuiditas?

Anjloknya laba BBNI tahun 2025 bukan disebabkan oleh macetnya mesin kredit, melainkan karena bank sedang terjebak dalam perangkap Cost of Funds (Biaya Dana). Sepanjang 2025, pendapatan bunga bank pelat merah ini sebenarnya naik 4,2% menjadi Rp69,39 triliun. Masalahnya, beban bunga naik jauh lebih kencang ke angka 11,3% menjadi Rp 29,06 triliun.

Dampaknya, Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) jalan di tempat, tertahan di angka Rp40,33 triliun. Angka ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa margin perbankan (NIM) sedang tertekan keras. Bank harus rela membayar bunga lebih mahal kepada deposan demi mempertahankan likuiditas di tengah ketatnya persaingan dana di pasar. Ditambah lagi, Cost to Income Ratio (CIR) BBNI masih bertengger di level 48,0%, menandakan efisiensi operasional belum sepenuhnya ideal.

Benteng Pertahanan Bernama CASA

Meskipun beban bunga menggerus margin, BBNI berhasil selamat dari kejatuhan laba yang lebih fatal berkat satu "parit pertahanan" (moat) struktural bernama CASA atau Current Account Savings Account.

Dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) jumbo sebesar Rp1.040,83 triliun, BBNI menimbun dana murah yang besar. Komposisi Giro mencapai Rp439,49 triliun dan Tabungan di angka Rp286,46 triliun. Artinya, rasio CASA BBNI bertengger di level premium 69,75 persen. Lebih lanjut, bank BNI bergantung pada Deposito mahal sebesar Rp314,87 triliun. Kendati demikian, jika struktur dana murah ini gagal dipertahankan, Cost of Funds BBNI bisa berubah dan laba bersih bakal jauh lebih hancur. CASA inilah yang menjadi urat nadi fundamental BBNI saat ini.

Ilusi Non-Performing Loan (NPL) Bank BNI

Dari hasil kalkulasi data laporan keuangan, rasio kredit macet (NPL) Gross BBNI terlihat sangat sehat di level 1,93%. Coverage rasionya juga tampak tinggi di level 206,4 persen. Namun investor yang cerdas tidak akan berhenti di NPL saja. Kita juga perlu melihat angka Loan at Risk (LAR).