IDXINDUST

 0.00%

IDXINFRA

 0.00%

IDXCYCLIC

 0.00%

MNC36

 0.00%

IDXSMC-LIQ

 0.00%

IDXHEALTH

 0.00%

IDXTRANS

 0.00%

IDXENERGY

 0.00%

IDXMESBUMN

 0.00%

IDXQ30

 0.00%

IDXFINANCE

 0.00%

I-GRADE

 0.00%

INFOBANK15

 0.00%

COMPOSITE

 0.00%

IDXTECHNO

 0.00%

IDXV30

 0.00%

ESGQKEHATI

 0.00%

IDXNONCYC

 0.00%

Investor33

 0.00%

IDXSMC-COM

 0.00%

IDXBASIC

 0.00%

IDXESGL

 0.00%

DBX

 0.00%

IDX30

 0.00%

IDXG30

 0.00%

ESGSKEHATI

 0.00%

KOMPAS100

 0.00%

PEFINDO25

 0.00%

BISNIS-27

 0.00%

ISSI

 0.00%

MBX

 0.00%

IDXPROPERT

 0.00%

LQ45

 0.00%

IDXBUMN20

 0.00%

IDXHIDIV20

 0.00%

JII

 0.00%

IDX80

 0.00%

JII70

 0.00%

SRI-KEHATI

 0.00%

SMinfra18

 0.00%

KB Bukopin
victoria sekuritas

Laba Emiten Bank BUMN Melonjak, Akankah Dividen Tahun 2021 Lebih Tinggi ?

13/02/2022, 13:00 WIB

Laba Emiten Bank BUMN Melonjak, Akankah Dividen Tahun 2021 Lebih Tinggi ?

EmitenNews.com - Kinerja bank pelat merah tahun 2021 cukup menggembirakan setelah merosot tajam pada tahun sebelumnya akibat dari dampak awal pandemi Covid-19. Empat bank pelat merah tercatat membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 72,07 triliun tahun lalu. Itu meningkat 78,6% dari perolehan laba pada tahun 2020 sebesar Rp 40, 34 triliun.


Pertumbuhan laba tertinggi dicatatkan oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yakni melesat 232,2% secara year on year (YoY) menjadi Rp 10,89 triliun. Disusul oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang tumbuh 66,8% YoY menjadi Rp 28,03 triliun, lalu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tumbuh 64,9% YoY menjadi Rp 30,7 triliun, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) naik 48,3% YoY menjadi Rp 2,37 triliun.


Ini tentu jadi kabar gembira bagi investor mengingat bank BUMN biasanya menebar dividen cukup besar setiap tahunnya. Bahkan, di saat kinerjanya ambruk ditimpa pandemi tahun 2020, tiga bank pelat merah masih membagikan dividen dengan rasio cukup tinggi. Hanya BTN yang absen memberikan apresiasi ke pemegang sahamnya saat itu.


Bank Mandiri tahun lalu bagi dividen Rp 10,27 triliun dengan rasio 60% dari laba bersih buku 2020 atau setara Rp 220 per saham. Padahal net profit bank ini kala itu merosot 38% jadi Rp 17 triliun. Rasio pembagian dividen tersebut sama dengan tahun sebelumnya.


Sementara dividen Bank BRI mencapai Rp 12,12 triliun dengan pay out ratio 65% walaupun laba bersihnya anjlok 45,6% YoY tahun 2020 jadi Rp 18,65 triliun. Rasio pembagian dividen itu bahkan lebih tinggi dari tahun buku 2019.


BNI bagi dividen Rp 820 miliar dengan rasio 25% atau Rp 44 per saham di saat laba bersihnya kontraksi 78,7% menjadi Rp 3,28 triliun. Rasio tersebut sama seperti tahun -tahun sebelum pandemi Covid-19 menghantam ekonomi dunia.


Sejumlah analis memperkirakan dividen yang akan dibagikan bank BUMN tahun ini akan lebih tinggi dari tahun buku 2020. Alasannya ada dua. Pertama, kinerja bank tumbuh cukup tinggi. Kedua, pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas keempat bank tersebut masih berkutat dengan penangan pandemi sehingga membutuhkan anggaran yang lebih besar.


“Apalagi kita melihat selama ini bank BUMN adalah andalan pemerintah dalam menyumbang pendapatan lewat dividen perusahaan pelat merah. Dengan membaiknya kinerja bank dan kebutuhan yang besar dari pemerintah, kemungkinan besar dividen akan naik,” kata Analis Senior CSA Research Institute Reza Priambada


Senada, analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Okie Ardiasta, menilia dividen bank BUMN tahun buku 2021 akan lebih tinggi dari tahun sebelumnya seiring dengan membaiknya kinerja emiten-emiten tersebut.


Sementara prospek saham bank-bank BUMN menurut Okie akan cerah tahun ini seiring pemulihan ekonomi yang sudha berlangsung sejak tahun 2021.


Dia bilang, pelonggaran aktivitas ekonomi dapat mendorong konsumsi dan juga produktivitas bisnis. Ini jadi sinyal yang baik bagi sektor perbankan karena kredit akan semakin ekspansif dan rasio kredit bermasalah akan melandai.


Reza priambada memandang prospek saham bank BUMN karena masih sukses mencetak kinerja cukup baik di tengah kondisi pandemi yang masih belum berakhir. Pertumbuhan kredit dan terjaganya rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) menurutnya akan semakin membawa sinyal positif pada pergerakan sahamnya.


Kendati begitu, tantangannya tetap ada. Reza menilai pergerakan saham tersebut juga masih akan dipengaruhi sentimen-sentimen yang ada di pasar saham, terutama dari faktor eksternal.


Author: Rizki